Bab II
Sejarah
Ekonomi Indonesia
A.Sejarah
Pra Kolonialisme
Pada masa
sebelum kekuatan Eropa Barat mampu menguasai daratan dan perairan Asia
Tenggara.Nusantara yang kita kenal sekarang adalah Indonesia.Indonesia yang
terdiri dari pulau-pulau dan tanah yang dikuasai oleh berbagai kerajaan dan kekaisaran, hidup
berdampingan dengan damai sementara di lain waktu berada pada kondisi berperang
satu sama lain.
Nusantara
yang luas tersebut kurang memiliki rasa persatuan sosial dan politik yang
dimiliki Indonesia saat ini. Meskipun demikian, jaringan perdagangan terpadu
telah berkembang di wilayah ini terhitung sejak awal permulaan sejarah Asia.
Terhubung ke jaringan perdagangan merupakan aset penting bagi sebuah kerajaan
untuk mendapatkan kekayaan dan komoditas, yang diperlukan untuk menjadi
kekuatan besar. Tapi semakin menjadi global jaringan perdagangan ini di
nusantara, semakin banyak pengaruh asing berhasil masuk suatu perkembangan yang
akhirnya akan mengarah pada kondisi penjajahan.
Keberadaan sumber-sumber tertulis
adalah yang memisahkan masa sejarah dari masa prasejarah. Karena sedikitnya
sumber-sumber tertulis yang berasal dari masa sebelum tahun 500 Masehi, sejarah
Indonesia dimulai agak terlambat. Diduga sebagian besar tulisan dibuat pada
bahan yang mudah rusak dan - ditambah dengan iklim tropis lembab dan standar
teknik konservasi yang berkualitas rendah pada saat itu - ini berarti bahwa
sejarawan harus bergantung pada inskripsi/prasasti di atas batu dan studi
sisa-sisa candi kuno untuk menelusuri sejarah paling terdahulu nusantara. Kedua
pendekatan ini memberikan informasi mengenai struktur politik tua karena baik
sastra maupun pembangunan candi adalah contoh budaya tinggi yang diperuntukkan
bagi elit penguasa.
Sejarah Indonesia memiliki ciri
sangat khas, yaitu umumnya berpusat di bagian barat Nusantara (khususnya di
pulau Sumatera dan Jawa). Karena sebagian besar bagian timur Nusantara memiliki
sedikit kegiatan ekonomi sepanjang sejarah (terletak jauh dari jalur
perdagangan utama), hal itu menyebabkan sedikitnya kegiatan politik suatu
situasi yang berlanjut hingga hari ini.
Paham Indonesia pada
saat pra kolonialisme
Menurut Marsudi, paham kebangsaan
Indonesia tidak muncul dalam pandangan bangsa Indonesia dengan begitu saja,
melainkan paham kebangsaan Indonesia itu muncul secara bertahap dari perjalanan
panjang bangsa ini. Marsudi membagi pertumbuhan paham kebangsaan Indonesia ke
dalam tiga bagian, yaitu: Nusantara Masa Prakolonial, Nusantara Pada Masa
Kolonial, dan Indonesia Pascakemerdekaan.
Pada masa prakolonial (antara tahun
5-17 M), yaitu pada zaman kerajaan hindu-budha dan kerajaan islam, dunia belum
mengenal istilah Indonesia. Mereka menggunakan istilah Nusantara untuk menyebut
kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pada masa itu, terdapat banyak pusat
kekuatan politik di wilayah nusantara, seperti kerajaan Majapahit dan Mataram di
Jawa, dan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Namun dengan adanya pusat-pusat
kekuatan politik di setiap wilayah, hal tersebut tidak dapat menyatukan
orang-orang nusantara sebagai suatu bangsa. Kerajaan-kerajaan tersebut saling
berperang agar dapat memperluas daerah kekuasaannya. Paham yang mereka miliki
pada masa itu hanya sebatas paham geopolitik, yaitu kesadaran bahwa mereka
memiliki identitas yang sama, sama-sama terletak di kawasan nusantara tapi
mereka belum dapat dipersatukan sebagai suatu bangsa secara politik. Sebagai
salah satu pusat kebudayaan yang besar di wilayah Asia, nusantara memiliki
hubungan yang baik dengan Cina dibidang perdagangan, serta hubungan dalam
bidang kebudayaan (khususnya agama Hindu-Budha) dengan India. Kesadaran
geopolitik sebagai bangsa yang tinggal di wilayah nusantara digunakan oleh
raja-raja pada masa tersebut sebagai identitas untuk menghadapi kekuatan dari
wilayah lain.
Pengaruh Agama Hindu dan Budha di Indonesia
Prasasti tertua yang ditemukan di
Nusantara dikenal sebagai Prasasti Kutai dan berasal dari Kalimantan Timur,
yang sudah ada sejak sekitar 375 Masehi ketika kerajaan Kutai Martadipura
berkuasa. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sansekerta (bahasa liturgis agama
Hindu) menggunakan tulisan Palawa, tulisan yang dikembangkan di India Selatan
sekitar abad ketiga Masehi. Dalam prasasti ini tiga raja Kutai Martadipura
disebutkan dan mereka menggambarkan sebuah ritual yang merupakan karakteristik
Hindu kuno. Sekitar satu abad kemudian, batu prasasti pertama (yang diketahui)
di Jawa ditemukan. Prasasti ini, yang juga dalam bahasa Sansekerta, menyatakan
raja Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara (abad keempat sampai ketujuh) di
Jawa Barat dan menghubungkan sang raja ini dengan dewa Hindu (Wisnu). Secara
keseluruhan, prasasti ini menunjukkan bukti pengaruh besar dari agama Hindu
India di kalangan elit penguasa kerajaan pribumi kuno pertama yang diketahui di
Nusantara.
Meskipun demikian, hubungan
perdagangan antara India dan Nusantara masa kini diketahui telah terbentuk
berabad-abad sebelum prasasti Kutai. Selat Malaka, jalur laut yang
menghubungkan Samudera Hindia dengan Samudera Pasifik, telah menjadi jalur
pelayaran utama untuk perdagangan yang pengantarannya melalui laut antara
China, India dan Timur Tengah sejak ingatan manusia (since human memory). Sebagian besar garis pantai Sumatera
terletak di sebelah jalur laut ini, yang menyebabkan pedagang antara India dan
China berhenti di sini atau di sisi lain dari Selat (sekarang Malaysia)
untuk menunggu angin musim yang tepat yang akan membawa mereka lebih jauh. Tapi
diasumsikan bahwa agama Hindu dan Buddha tidak disebarkan ke Nusantara oleh
para pedagang India. Kemungkinan besar, raja dan kaisar di Nusantara tertarik
dengan kehormatan Brahmana (kelas imam agama Hindu yang merupakan peringkat
tertinggi dari empat kasta sosial). Brahmana ini, berdasarkan dugaan,
memperkenalkan agama baru ke Nusantara yang memungkinkan raja-raja pribumi
untuk mengidentifikasikan diri mereka dengan dewa Hindu atau Bodhisattva
(makhluk mistis yang tercerahkan dalam agama Budha), sehingga menggantikan
pemujaan leluhur yang dianut sebelumnya. Oleh karena itu, Doktrin agama baru
ini, menunjukkan kehormatan yang lebih besar bagi raja-raja. Kerajaan di
Nusantara yang meniru konsep India ditemukan di pulau Kalimantan, Jawa,
Sumatera dan Bali.
Karena posisi strategis dari
garis pantai Sumatera dan Malaysia yang dekat dengan Selat
Malaka, tidaklah mengherankan bahwa kita menemukan Negara pertama yang
berpengaruh besar dalam sejarah Indonesia di daerah pesisir Sumatra, dan
membentang di wilayah geografis yang luas di sekitar selat. Kerajaan ini
dinamakan Sriwijaya dan menguasai jalur perdagangan yang menghubungkan Samudra
Hindia, Laut Cina Selatan dan Kepulauan Rempah Maluku antara abad ke-13 dan
abad ke-17. Sriwijaya juga dikenang sebagai Pusat di Asia Tenggara untuk studi
agama Budha dengan penekanan utama pada studi bahasa Sansekerta. Dari
sumber-sumber Cina diketahui bahwa para biksu Budha Cina tinggal di Sriwijaya
selama lebih dari satu dekade untuk melanjutkan studi mereka.
Sisa-sisa candi Hindu dan Buddha
yang berasal dari antara abad ke-8 dan ke-10 menunjukkan pemerintahan dua
dinasti di Jawa Tengah. Dinasti ini adalah Dinasti Sailendra (penganut Agama
Budha Mahayana dan kemungkinan besar dinasti yang membangun Candi Borobudur
yang terkenal sekarang berada di dekat Yogyakarta sekitar tahun 800 Masehi) dan
Dinasti Sanjaya (penganut agama Hindu yang membangun kompleks candi Prambanan
sekitar tahun 850 Masehi tidak jauh dari candi Borobudur dan sebagai reaksi
terhadap candi Borobudur tersebut). Keruntuhan perlahan-lahan Sriwijaya dan munculnya
kerajaan besar baru di Jawa ini berarti bahwa kekuasaan politik secara bertahap
berpaling dari Sumatera menuju Jawa. Namun pada abad ke-10 kehidupan penduduk
di Jawa Tengah tiba-tiba tidak terekam karena kurangnya sumber. Diduga letusan
gunung berapi besar menggeser kekuasaan politik dari Jawa Tengah ke Jawa Timur
tempat berkembangnya sejumlah kerajaan baru. Dua di antaranya yang patut
mendapat perhatian khusus karena warisan mereka, yakni Kediri (sekitar
1042-1222) untuk warisan prasasti dan warisan sastranya, dan penggantinya
Singasari (antara 1222 dan 1292) untuk memperkenalkan babak baru dalam sejarah
Indonesia, yaitu sinkretisme (penyatuan aliran) agama Hindu dan Budha. Babak
baru ini mencapai kejayaannya di kerajaan Majapahit di Jawa Timur (1293 sampai
sekitar 1500), yang mungkin merupakan kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara
yang memiliki wilayah geografis yang menyerupai perbatasan Indonesia saat ini
(walaupun masih diperdebatkan di kalangan sarjana mengenai seberapa besar
kekuasaan kerajaan ini benar-benar dinikmati di luar Jawa dan Bali). Majapahit
dengan perkembangan seni dan sastranya yang luar biasa masih merupakan konsep
penting dan menjadi penyebab kebanggaan nasional bagi masyarakat Indonesia saat
ini karena dianggap sebagai dasar negara modern Indonesia. Pergerakan
kaum nasionalis di abad ke-20 menggunakan konsep ini untuk menjustifikasi
kemerdekaan dan keabsahan batas-batas wilayah. Motto Nasional Indonesia Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti
‘Persatuan dalam Keberagaman', berasal dari sebuah puisi Jawa Kuno yang ditulis
pada masa pemerintahan Majapahit.
Kedatangan Islam di
Indonesia
Meskipun merupakan kerajaan
Hindu-Buddha, Islam berpengaruh bagi kalangan elit penguasa Majapahit.
Kemungkinan Islam sudah ada di Asia Tenggara maritim dari awal era Islam ketika
pedagang Muslim datang ke Nusantara, membuat permukiman di daerah pesisir,
menikah dengan wanita setempat dan dihormati atas kekayaan mereka yang
diperoleh melalui perdagangan. Beberapa penguasa lokal kemungkinan tertarik
dengan agama baru ini dan dianggapnya menguntungkan untuk menganut keyakinan
yang sama seperti sebagian besar pedagang. Pendirian kerajaan islam merupakan
langkah logis berikutnya. Diduga rakyat dari raja-raja ini mengikutinya dengan
masuk Islam.
Prasasti pada batu nisan menunjukkan
bahwa pada awal abad ke-13 terdapat sebuah kerajaan Islam di bagian utara
Sumatera disebut Pasai atau Samudera. Kerajaan ini dianggap sebagai kerajaan
Islam pertama di Nusantara. Dari Sumatra Utara, pengaruh Islam kemudian
menyebar ke arah timur melalui perdagangan. Di pesisir pantai utara Jawa
berbagai kota Islam muncul selama abad ke-14. Meskipun demikian, tidaklah
mungkin kalau beberapa bangsawan Jawa dari Majapahit di Jawa Timur memeluk
agama Islam karena perdagangan. Mereka mungkin merasa derajatnya jauh lebih
tinggi dibanding dengan kelas sosial pedagang. Kemungkinan besar bangsawan Jawa
ini dipengaruhi oleh ulama Sufi dan orang-orang suci atau wali yang mengaku memiliki kekuatan
supranatural (karomah).
Pada akhir abad ke-14 dan awal abad
ke-15 pengaruh Majapahit di Nusantara mulai menurun karena konflik suksesi dan
meningkatnya kekuasaan kerajaan Islam. Sebuah negara perdagangan baru, Malaka,
merupakan salah satu kekuatan baru ini. Kekuatan ini bangkit di daerah pesisir
- saat ini Malaysia - dan terletak di bagian tersempit dari Selat Malaka.
Negara ini menjadi pelabuhan sangat sukses dengan fasilitas menguntungkan dalam
jaringan perdagangan luas yang membentang dari Cina dan Maluku di ujung timur
ke Afrika dan Mediterania di ujung barat. Meskipun pada awalnya Malaka adalah
negara Hindu-Buddha, namun berubah dengan cepat menjadi kesultanan Muslim
(mungkin karena alasan terkait perdagangan).
Hubungan historis antara perdagangan
dan Islam juga terlihat dalam perkembangan di pulau Ternate - saat ini propinsi
Maluku di kawasan timur Indonesia. Ternate (mirip dengan Tidore yang dekat
dengannya) menjadi daerah kaya karena produksi cengkeh. Dari Jawa - dan melalui
perdagangan - Islam menyebar ke daerah ini, mengakibatkan berdirinya kesultanan
di akhir abad ke-15. Kesultanan ini berhasil menguasai sebagian besar Indonesia
Timur namun posisinya dirusak oleh Belanda pada abad ke-17.
Kedatangan Bangsa Eropa di
Indonesia
Cerita tentang kekayaan Malaka telah
mencapai Eropa dan menggoda bangsa Portugis, yang memiliki teknologi navigasi
maju, untuk berlayar ke bagian dunia ini agar bisa memiliki pengaruh lebih
besar pada jaringan perdagangan rempah-rempah dunia. Pada tahun 1511 Malaka
ditaklukkan oleh armada Portugis di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque.
Meskipun demikian, penaklukan ini memiliki konsekuensi yang luas bagi jalur
perdagangan. Malaka, yang dulu merupakan pelabuhan kaya, dengan cepat hancur di
bawah kekuasaan Portugis yang tidak pernah berhasil memonopoli perdagangan
Asia. Setelah penaklukan, para pedagang segera mulai menghindari Malaka dan
pergi membawa bisnis mereka ke beberapa pelabuhan lain. Johor (Malaysia), Aceh
(Sumatra) dan Banten (Jawa) adalah negara yang mulai mendominasi perdagangan
rempah-rempah karena pergeseran jalur-jalur perdagangan.
Belanda juga tertarik untuk
membangun cengkeraman yang kuat pada jaringan perdagangan rempah-rempah di Asia
Tenggara. Ekspedisi pertama mereka mencapai Banten pada tahun 1596 tapi
disertai dengan permusuhan antara Belanda dan penduduk pribumi. Setelah tiba
kembali di Belanda, ekspedisi ini masih menunjukkan keuntungan besar yang
memperlihatkan bahwa ekspedisi ke kawasan Asia Tenggara sebenarnya menghasilkan
banyak uang. Namun saking banyaknya ekspedisi yang diadakan oleh beberapa
perusahaan Belanda (ke Nusantara), menimbulkan dampak negatif pada keuntungan
mereka. Persaingan memperebutkan rempah-rempah mendongkrak kenaikan harganya di
Nusantara sementara peningkatan pasokan rempah-rempah menyebabkan penurunan
harga di Eropa. Hal ini membuat pemerintah Belanda memutuskan untuk
menggabungkan perusahaan pesaingnya menjadi satu badan usaha yang disebut
Serikat Dagang Hindia Timur (Vereenigde
Oost Indische Compagnie, disingkat VOC). Mereka menerima kekuasaan
berdaulat yang besar untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah Asia serta
menyingkirkan pesaing Eropa lainnya. VOC memutuskan untuk memiliki kantor
pusatnya tidak di Maluku (jantung pulau penghasil rempah-rempah) tetapi lebih
strategis dekat Selat Malaka dan Selat Sunda. Pilihannya jatuh pada Jakarta
saat ini. Pada tahun 1619 Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen mendirikan
Batavia di atas puing-puing kota Jayakarta yang dihancurkan karena sikapnya
yang memusuhi Belanda. Batavia menawarkan prospek dagang yang bagus,
sehingga menyebabkan timbulnya imigrasi banyak orang (terutama orang Cina) ke
kota berkembang pesat ini.
Menuju Pemerintahan Kolonial
di Indonesia
Sementara itu, negara-negara Islam
terus berkembang di Nusantara. Di Aceh (Sumatra) Sultan Iskandar Muda
mendirikan kekuasaan besar di awal abad ke-17, mengendalikan cadangan lada dan
timah. Namun, ia tidak pernah berhasil membangun hegemoni di sekitar Selat
Malaka seperti Johor dan Portugis yang merupakan pesaing kuat. Setelah pemerintahan
Iskandar Muda, Aceh mengalami periode panjang perpecahan internal yang
menghentikannya menjadi kekuatan penting di luar ujung utara Sumatera. Di Jawa
Tengah dua kekuasaan Islam baru yang kuat muncul di paruh kedua abad ke-16.
Kekuasaan ini adalah distrik Pajang dan Mataram yang, setelah melalui
perjuangan panjang, berhasil menghentikan dominasi politik daerah pesisir di
utara Jawa. Mataram menjadi dinasti yang paling kuat dan paling lama dari
dinasti Jawa modern, dengan masa pemerintahan Sultan Agung sebagai kejayaan
politik. Sultan Agung berkuasa pada tahun 1613-1646 dan berhasil menaklukkan
hampir seluruh daratan Jawa, kecuali kerajaan Banten di Jawa Barat dan kota
Batavia. Penguasaan Belanda terhadap Batavia adalah ibarat onak/duri di mata
Sultan Agung yang ingin menguasai seluruh daratan pulau. Dalam dua kesempatan
ia mengirim pasukannya untuk menaklukkan kota Belanda ini tapi gagal
kedua-duanya.
VOC dengan cepat menyebarkan
kekuasaannya di Nusantara dan mendapatkan kendali atas produksi cengkeh dan pala
di Kepulauan Banda (Maluku) dengan menggunakan langkah-langkah ekstrim seperti
genosida (pembantaian massal). VOC terus memperluas jaringan pos perdagangannya
di seluruh Nusantara. Kota dan pelabuhan yang memainkan peran sentral dalam
jaringan perdagangan Belanda ini adalah Surabaya (Jawa Timur), Malaka (Malaysia
Barat) dan Banten (Jawa Barat). Meskipun undang-undang VOC pada awalnya tidak
memperbolehkan mengganggu politik internal negara pribumi, namun VOC mengakar
cukup kuat dalam politik Mataram di Jawa Tengah. Setelah kematian Sultan
Agung, Mataram dengan cepat merosot dan sengketa suksesi muncul sekitar akhir
abad ke-17 dan awal abad ke-18. Belanda memainkan taktik memecah-belah dan
menaklukkan yang pada akhirnya mengakibatkan pembagian kerajaan Mataram menjadi
empat bagian dengan penguasanya menjadi tunduk kepada Belanda. Meskipun
kedudukan Belanda masih agak lemah di luar Pulau Jawa, perkembangan politik di
Jawa ini dapat dianggap sebagai tahap awal penjajahan Belanda di Nusantara.
B.Sistem Monopoli VOC
Mula-mula VOC mendapat izin dari
Pangeran Wijayakrama untuk mendirikan kantor dagang di Jayakarta. Tetapi ketika
gubernur jenderal dijabat oleh J.P. Coen,
Pangeran Wijayakrama diserangnya. Kota Jayakarta direbut dan dibakar. Kemudian di atas reruntuhan kota Jayakarta, J.P. Coen membangun sebuah kota baru.Kota baru itu diberinya nama Batavia. Peristiwa tersebut pada tahun 1619. Kota Batavia itulah yang kemudian menjadi pusat VOC.
Pangeran Wijayakrama diserangnya. Kota Jayakarta direbut dan dibakar. Kemudian di atas reruntuhan kota Jayakarta, J.P. Coen membangun sebuah kota baru.Kota baru itu diberinya nama Batavia. Peristiwa tersebut pada tahun 1619. Kota Batavia itulah yang kemudian menjadi pusat VOC.
Setelah memiliki sebuah kota sebagai pusatnya, maka
kedudukan VOC makin kuat. Usaha untuk menguasai kerajaan-kerajaan dan
pelabuhan-pelabuhan penting ditingkatkan. Cara melakukannya dengan politik dividi et impera atau politik mengadu
domba. Mengadu dombakan sesama bangsa Indonesia atau antara satu kerajaan
dengan kerajaan lain. Tujuannya agar kerajaan-kerajaan di Indonesia menjadi
lemah, sehingga mudah dikuasainya. VOC juga sering ikut campur tangan dalam
urusan pemerintahan kerajaan-kerajaan di Indonesia.
Untuk
menguasai perdagangan rempah-rempah, ia memaksakan monopoli, terutama di
Maluku. Dalam usahanya melaksanakan monopoli, VOC menetapkan beberapa
peraturan, yaitu sebagai berikut :
1. Rakyat
Maluku dilarang menjual rempah-rempah selain kepada VOC.
2. Jumlah
tanaman rempah-rempah ditentukan oleh VOC.
3. Tempat
menanam rempah-rempah juga ditentukan oleh VOC.
Agar pelaksanaan monopoli tersebut benar-benar ditaati
oleh rakyat, VOC mengadakan Pelayaran
Hongi. Pelayaran Hongi ialah patroli dengan perahu kora-kora, yang
dilengkapi dengan senjata, untuk mengawasi pelaksanaan monopoli di Maluku. Bila
terjadi pelanggaran terhadap peraturan tersebut di atas, maka pelanggarnya
dijatuhi hukuman.
Hukuman terhadap para pelanggar peraturan monopoli
disebut ekstirpasi. Hukuman itu
berupa pembinasaan tanaman rempah-rempah milik petani yang melanggar monopoli,
dan pemiliknya disiksa atau bisa-bisa dibunuh.
Bukan main kejamnya tindakan VOC waktu itu. Akibatnya
penderitaan rakyat memuncak. Puluhan ribu batang tanaman pala dan cengkih
dibinasakan. Ribuan rakyat disiksa, dibunuh atau dijadikan budak. Ribuan pula
rakyat yang melarikan diri meninggalkan kampung halamannya, karena ngeri
melihat kekejaman Belanda.
Tidak sedikit yang meninggal di hutan atau gunung
karena kelaparan. Tanah milik rakyat yang ditinggalkan, oleh VOC dibagi-bagikan
kepada pegawainya. Karena kekejaman tersebut maka timbulah perlawanan di
berbagai daerah.
Contoh Sistem Monopoli
Perdagangan yang dipengaruhi kolonialisme portugis di Maluku (Maluku Utara)
Kolonialisme adalah penguasaan oleh suatu Negara atas
daerah ata bangsa lain dengan maksud untuk memperluas Negara itu. Imperialism
adalah system politik yang bertujuan menjajah Negara lain untuk mendampar
kekuasaan dan keuntungan yang lebih besar. Kolonialisme dan imperialisme
ditumbuh kembangkan bangsa-bangsa eropa di seluruh dunia, termasuk di
nusantara. Sejak terjadinya perang salib, jatuhnya konstantinopel ke Bangsa
Turki Usmani, penutupan Lisabon oleh raja spanyol, timbulah perang koalisi di
eropa, dan dampak revolusi industry di inggris, Negara-negara di eropa
mendatangi banyak negeri dengan tujuan utama mendominasi dan mengeksploitasi
sumber-sumber kekayaan alam dan manusia.negara-negara eropa yang memiliki andil
dalam membentuk dan mengembangkan kolonialisme dan imperialism di nusantara
yaitu, Portugis, belanda, prancis dan inggris.
Portugis merupakan Negara-negara eropa pertama yang
berusaha mencari jalan laut ke dunia timur. Bartholomeus Diaz berhasil mencapai
tanjung harapan pada tahun 1486 dan Vasco D Gama menginjakan kaki di
Calicut 1498. Tiga belas tahun kemudian Alfonso d,Albuquerque dapat mengusai
pelabuhan malaka. Penaklukan malaka merupakan langkah strategis Portugis dalam
upaya di asian tenggara. Setelah menaklukan malaka Portugis melanjutkan
petualangnya ke Maluku di bawah pimpinan Antonio Abreau. Pada tahun 1512 armada
Portugis tiba di Maluku untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah.
Dalam
mencapai tujuanya, Portugis memanfaatkan persaingan yang ada di Maluku. Pada
saat itu Ternate tengah bersaing dengan tidore yang bersekutu dengan spanyol.
Portugis segera menggunakan kesempatan tersebut dengan cara membantu Ternate.
Sudah barang tentu kehadiran Portugis di Ternate mendapat simpati dari rakyat.
Terlebih lagi rakyat Ternate mengira bahwa Portugis merupakan bangsa pedagang
yang akan berperan menaikan harga rempah-rempah. Oleh karena itu, Portugis di
izinkan mendirikan benteng di Ternate. Pada tempat lain di Maluku, portugipun
membantuHitu yang sedang bersaing dengan Seram. Tindakan inilah yang menjadi
langkah awal Portugis dalam rangka menacapkan pengaruh dan kekuasaan colonial
di Maluku.
kekuasaan
Portugis di indonesia adalah sebelum sepanyol. Melalui penjelajahan samudra,
bangsa Portugis berhasil mencapai India(Kalikut) pada tahun 1498.Bangsa
Portugis berhasil mendirikan kantordagangnya di Goa (1509).
Pada tahun 1511 Portugis berhasil menguasaiMalaka.
Selanjutnya, Portugis mengadakan hubungan dagang dengan Maluku yang merupakan
daerah sumber utama rempah-rempah di Indonesia.Pada tahun 1512 Alfonso de
Albuquerque mengirimkan beberapa buahkapal ke Maluku. Pada awalnya masyarakat
Maluku menyambut baik dan salingberebut menanamkan pengaruh kepada Portugis.
Hal ini dimaksudkan agar Portugis dapat membeli rempah-rempah dan membantu
masyarakat Malukumenghadapi musuh-musuhnya.
Pada saat
itu, Kesultanan Ternate di Maluku diperintah oleh Kaicil Darus.Sultan Ternate
itu meminta bantuan Portugis untuk mendirikan benteng diTernate. Pendirian
benteng tersebut bertujuan agar Ternate terhindar darikemungkinan serangan dari
daerah lain. Pada tahun 1522, Portugismengabulkan permintaan Sultan Ternate
dengan mendirikan Benteng Saint John . Pendirian benteng tersebut harus dibayar
mahal oleh Ternate karenaPortugis menuntut imbalan berupa hak monopoli
perdagangan rempah-rempahdi Ternate. Sultan Ternate terpaksa harus
menandatangani perjanjian monopoliperdagangan dengan Portugis.
Pada tahun 1513, bangsa Portugis mendarat di kepulauan
Ambon yang merupakan penghasil cengkeh, tempat ini sekaligus juga merupakan
pintu masuk wilayah tersebut . Kemudian dibangunlah sebuah benteng Portugis
berikut dengan adanya beberapa peraturan keamanan, yang dibantu oleh sekelompok
pemeluk baru agama Kristen yang berfungsi pula sebagai penyangga, dimana mereka
bermukim dan berpusat disekitar benteng tersebut, yang kemudian menjadi kota Ambon
(ibukota propinsi Maluku yang sekarang).
Perjanjian
monopoli perdagangan rempah-rempah tersebut ternyatamenimbulkan kesengsaraan.
Rakyat tidak dapat menjual rempah-rempah secarabebas. Portugis telah menetapkan
harga rempah-rempah yang dimiliki rakyatdengan harga yang murah. Di samping
itu, rakyat Ternate harus menjualrempah-rempah kepada Portugis. Hal itu
merugikan rakyat Ternate, tetapimemberikan keuntungan yang sangat besar bagi
Portugis. Oleh karena itu, terjadipermusuhan antara rakyat Ternate dan Portugis.Selain
mengadakan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku,Portugis juga aktif
menyebarkan agama Katolik. Salah seorang tokoh Portugis yang giat menyebarkan
agama Katolik adalah Fransiscus Xaverius.
Tanpa
diduga pada tahun 1521 Spanyol muncul dari arah Filipina dengan
kapal Trinidad dan Victoria yang dipimpin oleh Kapten Sebastian del Cano.
Selanjutnya, Spanyol menjalin hubungan dengan Tidore, saingan berat Ternate.
Portugis merasa tidak senang ada saingan dari Spanyol di Tidore. Persaingan antara
Portugis dan Spanyol kembali terjadi, namun pada tahun 1529 berhasil
diselesaikan melalui Perjanjian Saragosa. Isi Perjanjian Saragosa yaitu Spanyol
kembali ke Filipina sedangkan Portugis tetap di Maluku
Saat Portugis bersitegang dengan Spanyol, hubungan
Ternate dan Tidore semakin memanas. Ternate meminta jaminan dukungan terhadap
Portugis untuk menghadapi Tidore. Portugis dengan senang hati
menyanggupi, dengan syarat mendapatkan hak monopoli perdagangan
rempah-rempah di Ternate. Akibatnya rakyat Ternate sangat
dirugikan, mereka tidak lagi leluasa menjual rempah-rempah. Harga
cengkih dan pala ditetapkan oleh Portugis dengan sangat rendah.
Di Maluku,
selain monopoli perdagangan Portugis juga bertindak sewenang-wenang dan
kejam terhadap rakyat. Bahkan cenderung untuk menguasai wilayah. Keadaan
ini mengakibatkan hubungan yang semula terjalin dengan baik berubah
menjadi hubungan permusuhan. Puncak pertentangan terjadi setelah Portugis
dengan licik membunuh Sultan Hairun, Raja Ternate.
Kebijakan Pemerintah
Kolonial Portugis
Kekuasaan Portugis di Maluku berlangsung cukup lama,
sekitar tahun 1512 sampai 1641. Kebijakan-kebijakan yang dipraktikkan selama
itu sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.
Berbagai
kebijakan pemerintah kolonial Portugis.
a. Berusaha
menanamkan kekuasaan di Maluku.
b.
Menyebarkan agama Katolik di daerah-daerah yang dikuasai.
c.
Mengembangkan bahasa dan seni musik keroncong Portugis.
d. Sistem
monopoli perdagangan cengkih dan pala di Ternate.
Dengan kebijakan ini, petani Ternate tidak lagi
memiliki kebebasan untuk menjual atau menentukan harga hasil panennya.
Mereka harus menjual hasil panennya hanya kepada Portugis dengan harga yang
ditentukan oleh Portugis. Akibatnya, petani sangat dirugikan, dan Portugis
memperoleh keuntungan yang sangat besar.
Pengaruh dari kebijakan ini ternyata tertanam
pada rakyat Indonesia khususnya rakyat Maluku. Ada yang bersifat negatif dan
ada yang positif. Berikut ini berbagai pengaruh yang ditimbulkan dari
kebijakan-kebijakan Portugis.
a.
Terganggu dan kacaunya jaringan perdagangan.
b.
Banyaknya orang-orang beragama Katolik di daerah
pendudukan Portugis.
c.
Rakyat menjadi miskin dan menderita.
d.
Tumbuh benih rasa benci terhadap kekejaman Portugis.
e.
Munculnya rasa persatuan dan kesatuan rakyat Maluku untuk menentang Portugis.
f.
Bahasa Portugis turut memperkaya perbendaharaan kata/ kosakata dan nama
keluarga seperti da Costa, Dias, de Fretes, Mendosa, Gonzalves, da Silva, dan
lain-lain.
g.
Seni musik keroncong yang terkenal di Indonesia sebagai peninggalan Portugis
adalah keroncong Morisco.
h.
Banyak peninggalan arsitektur yang bercorak Portugis dan senjata
api/meriam di daerah pendudukan termasuk keberadaan benteng Nossa Senhora da
Anunciada yang dibangun oleh Portugis pada tahun 1575, kemudian pada saat
kekuasaan jatuh ke tangan Kolonial Belanda (VOC) nama benteng tersebut diganti
menjadi Fort Nieuw Victoria pada tahun 1614.
Kekuasaan
Spanyol yang sempat menjalin hubungan dengan Tidore tidak memiliki
pengaruh yang berarti. Mengingat Spanyol segera meninggalkan Tidore karena
terbentur Perjanjian Saragosa.
Perjanjian Saragosa (juga ditulis Perjanjian Saragossa
atau Perjanjian Zaragoza), ditandatangani 22 April 1529, adalah perjanjian
antara Spanyol dan Portugis yang menentukan bahwa belahan bumi bagian timur
dibagi di antara kedua kerajaan tersebut dengan batas garis bujur yang melalui
297,5 marine leagues atau 17° sebelah timur Kepulauan Maluku. Perjanjian ini
adalah kelanjutan dari Perjanjian Tordesillas yang membagi belahan bumi barat
di antara Spanyol dan Portugis dan diprakarsai oleh Paus, yang melihat
persaingan perebutan koloni yang dilakukan oleh Portugis dan Spanyol. Oleh
karena itu, dibuatlah perjanjian ini. Dalam perjanjian ini dicapai hasil yang
lebih rinci dari dua belah pihak, Spanyol dan Portugis. Adapun kesepakatan yang
dicapai adalah:
1. Bumi dibagi
atas dua pengaruh, yaitu pengaruh bangsa Spanyol dan Portugis.
2. Wilayah
kekuasaan Spanyol membentang dari Meksiko ke arah barat sampai kepulauan
Filipina dan wilayah kekuasaan Portugis membentang dari Brazil ke arah timur
sampai kepulauan Maluku. Daerah di sebelah barat garis saragosa adalah
penguasaan Portugis, daerah di sebelah selatan timur saragosa adalah penguasaan
Spanyol.
Pengaruh
Yang Ditinggalkan.
1. Peninggalan Portugis telah berkumpul di
kepulawan Maluku, dalam riwayat Portugis ke kepulawan Maluku terutama Ternate,
Ambon-Lease dan bagian dari Tidore dan Seram, dimana pada suatu waktu telah
terdapa benteng-benteng dan Bandar dagang yang menjadi pemusatan bagi Portugis.
Peninggal di Pulau Ambon merupakan suatu kasus tersendiri, yang jelas dalam
hubungan timbal-balik antara orang Portugis dan orang pribumi, Politik
raja-raja Portugis sebagaimana yang telah diperbaharui oleh Henry Pelaut, ialah
pembentukan feitoria (kota perdagangan), menghadiahkan tanah (doacao) companhia
dan monopoli di Maluku yang memerlukan tenaga kerja dari pihak Portugis yang
bekerja sama dengan orang pribumi untuk mengokohkan politik meraka di tanah
Maluku. Raja Muda Alfonso, semasa pemerintahanya (1509-1515) menganjurkan
secara tegasa, agar mereka yang turut dalam perdagangan rempah-rempah sebaiknya
kawin dengan pribumi, dengan kemikina kepentinagan Portugis dapat dijami oleh
orang-orang yang hatinya tetep dan tidak cepat-cepat kembali ke tanah airnya,
melaikan memanam akar di negeri baru, dan kemudia nanam akar bagi kepentingan
Portugis. Menurut pihak Portugis kebijakan ini merupakan jalan terbaik untuk
tetep mengekalkan kuasanya di Maluku. Fam/Marga di Maluku yang berasal dari
adat bangsa Portugis seperti ;
a. Da Costa,
b. De Fretes,
c. Que,
d. Carliano,
e. De Souza,
f. De
Carvalho,
g. Pareira,
h. Courbois,
i. Frandescolli
dan lain-lain.
Ditemukan
pula fam/mata ruma keturunan bangsa Spanyol seperti ;
a. Oliviera,
b. Diaz,
c. De Jesus,
d. Silvera,
e. Rodriguez,
f. Montefalcon,
g. Mendoza,
h. De Lopez dan
lain-lain.
Cara penulisan
fam orang Ambon/Maluku pun masih mengikuti dan disesuaikan dengan cara
pembacaan ejaan asing seperti Rieuwpassa (baca:Riupasa), Nikijuluw (baca:Nikiyulu),
Louhenapessy (baca:Lohenapesi), Kallaij (baca:Kalai) dan Akyuwen (baca:Akiwen).
2.
Peningalan Portugis yang bersifat sejarah atau peningalan-peningalan yang
menjadi tapak tilas kejayaan Portugis di Maluku, juga terfokus kepada bahasa
yang hinga kini masih digunakan pada masyarakat Maluku ( bahasa yang digunakan
bukan secara umum, beberapa entri kata yang masih tersisah dan masih digunakan
sebagai bahasa pinjaman).
Bahasa
Melayu sebagai lingua franca daerah semenanjung Melaka (Malaysia), Sumatera dan
pulau-pulau lainya, yaitu bahasa Melayu sudah tentu dipelajari untuk
berhubungan dalam hal perdagangan mahupun sebagai bahasa sehari-hari untuk
berkomunikasi dengan orang-orang pribumi di Nusantara. Pada saat orang-orang
Portugis sampai di Maluku, tepatnya di Pulau Ambon lingua faranca inipun
ditemui di Pulau Ambon yang masyarakatnya mengunakan bahasa Melayu sebagai
bahasa komunikasi. Sementara bahasa daerah (bahasa tanah) yang digunakan di
Maluku terlampau berbeda untuk dapat digunakan sebagai bahasa perantara dan
dapat dikara bahwa pemasukan ide baru, baik dalam hal agama, perdagangan tidak
terkecuali juga bahasa.
Pigafetta
dalam buku catatanya telah membuat satu daftar kata Melayu-Italia, walaupun
ejan dari kata-kata Indoensia telah menggambarkan pengaruh suatu dialek local,
namun dapat disimpulkan taraf hubungan antara pendatang dan politik dalam
hubungan ini terutama terdapat dalam perdagangan dan politi local agama dan
kehidupan sehari-hari.sementara komunikasi antara raja-raja di Maluku dengan
raja Portugis mengunakan bahasa Melayu kemudian oleh pihak Portugis
diterjemahkan kedalam bahasa Portugis, tetapi surat menyurat antar raja pribumi
dengan raja protugis diganti dengan bahasa Portugis mungkin karena Portugis
telah menjadi penguasa tunggal pada saat itu. Dapat diduga hal ini karena orang
Portugis berusaha untuk mengajar bahasa mereka dan karena sistim fonetik bahasa
Portugis tidak terlalu sulit untuk dipelajari oleh orang-orang pribumi Maluku
Bahasa
Portugis, sekitar tahun 1540 dan selanjutnya telah umum digunakan di kota
Malaka, Goa, dan juga Maluku yang menjadi bahasa pengantar bagi bolongan
atasan, sipil,militer, pedangan. Para sultan di Maluku dan raja-raja di Pulau
Ambon (Hitu) yang melawat ke Malaka dalam berhubungan dengan benteng Portugis
mengunakan bahasa Portugis, dalam dokumen-dokumen Portugis sultan hairun
(Sultan Ternate) disebut sebagai seorang ahli bahasa dan sastra Portugis.
Pengaruh bahasa Portugis terhadap masyrakat Maluku waktu itu sehinga membuat
banyak pemebendaharan kata dalam bahasa Portugis kedalam bahasa Melayu Ambon,
Conto diatas
3. Pengaruh kembudayaan yang masih tersa bagi
orang Maluku saat ini selain adanya benteng-benteng peningalan bangsa Portugis
di Maluku, pengaruh pertugis lainnya adalah dengan adanya nama-nama keluarga
atau lebih lajim sebutan orang Ambon fam yang berasal dari Portugis yang dapat
kita temui di tengah-tengah masyarakat Maluku seperti Costa, de Fretes,
Pareira,6 da Silva, dan sebagainya. Pengaruh Portugis ini disebabkan karena
kebijakan politik yang bangsa Portugis untuk mengekalkan kedudukannya di
Maluku, dimana para pedagang dari Portugis harus beristrikan orang pribumi,
demikian pula denagn gelar kebangsawan yang digunakan oleh pemuka-pemuka
pribumi seperti gelar Dom telah diberikan sejak tahun 1512 oleh Fransisco
Serrao kepada Jamilu salah seorang dari empat perda hitu, pemberian gelar ini
adalah prerogative Raja Portugis dan hak pemakaian langsung dari keturunan
seorang raja.
4. Satu golongan yang mempunyai kedudukan
yang kuat sebagai perdangang dari Bangsa Portugis adalah orang kaya, walaupun
Portugis berusaha untuk mendapatkan monopoli perdagangan rempah-rempah di
Maluku, namun saudagar-saudagar dari daerah lain masi tetap datang berdagang
dimana kebun rempah-rempah sudah melusa keberbagai daerah dan tidak terbatas
hak milik tanah oleh raja saja. Kedudukan angota-angota negeri yang mempunyai
tanah dan dapat memperdagangkan hasil kebunnya dengan untuk yang banyak,
kelompok-kelompok orang kaya ini kemungkinan bermunculan pada waktu berdatangan
saudagar-saudagar dari Jambi,Malaka dan Jawa yang tiba diperairan Maluku,
Golongan ini pertama kalinya terdapat di Banda dan tidak termasuk dalam hirarki
susunan adat. Namun, lambat laun mereka mulai memegang peranan sebagai pemuka
Masyarakat walaupun tetap membayar upeti kepada Raja.
5. Penginjilan yang dilakukan
padri-padri yang langsung hidup di tengah-tengah masyarakat telah meyebarkan
agama Kristen Katolik kepada masyarakat Maluku walaupun agama Kristen Katolik
dalam kekuasan Belanda secara sistematis diganti dengan penginjilan agama
Kristen protestan, walapun demikian ritual-ritual agama Katolik masi bersisa
dalam tata cara Protestan. Pada waktu Franciscus Xaverius berada di Malaka,
menjelang keberangkatanya ke Maluku dalam tahun 1546 ia telah merasa untuk
keperluan terjemahan ajaran-ajaran Katolik ke dalam bahasa Melayu untuk
mempermudah penyebaran agamanya. Semetara peningalan Portugis lain yang masi
terjaga dalam masyarkat Maluku seperti paikan (pakain adat), musik dan kesenian
lainya perubahan dalam pakain ternyata dari kata-kata sapatu, cinela, kalsong..
tarian yang masih terisa seperi tarain polones, wals, quadrille, dan polka,
kemungkina tarian-tarian ini masuk Indonesia pada abad ke-19 tetap tarian ini
disebut Portugis. Tarian-tarian ini dibawa oleh pelaut-pelaut Portugis yang
masuk ke Maluku.
C.Sistem Tanam Paksa
Sejarah Pelaksanaan
Sistem Tanam Paksa (1830–1870) di Indonesia
a. Latar Belakang Timbulnya Sistem Tanam Paksa
Sejak
awal abad ke-19, pemerintah Belanda mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk
membiayai peperangan, baik di Negeri Belanda sendiri (pemberontakan Belgia)
maupun di Indonesia (terutama perlawanan Diponegoro) sehingga Negeri Belanda
harus menanggung hutang yang sangat besar.
Untuk
menyelamatkan Negeri Belanda dari bahaya kebrangkrutan maka Johanes van den
Bosch diangkat sebagai gubernur jenderal di Indonesia dengan tugas pokok
menggali dana semaksimal mungkin untuk mengisi kekosongan kas negara, membayar
hutang, dan membiayai perang. Untuk melaksanakan tugas yang sangat berat itu,
Van den Bosch memusatkan kebijaksanaannya pada peningkatan produksi tanaman
ekspor.
Oleh
karena itu, yang perlu dilakukan ialah mengerahkan tenaga rakyat jajahan untuk
melakukan penanaman tanaman yang hasil-hasilnya dapat laku di pasaran dunia
secara paksa. Setelah tiba di Indonesia (1830) Van den Bosch menyusun program
sebagai berikut:
1) Sistem sewa tanah
dengan uang harus dihapus karena pemasukannya tidak banyak dan pelaksanaannya
sulit.
2) Sistem tanam bebas
harus diganti dengan tanam wajib dengan jenis-jenis tanaman yang sudah
ditentukan oleh pemerintah.
3)
Pajak atas tanah harus dibayar dengan penyerahan sebagian dari hasil tanamannya
kepada pemerintah Belanda.
b. Aturan-Aturan Tanam Paksa
Sistem
tanam paksa yang diajukan oleh Van den Bosch pada dasarnya merupakan gabungan
dari sistem tanam wajib (VOC) dan sistem pajak tanah (Raffles) dengan
ketentuan-ketentuan sebagai berikut.
1) Penduduk desa yang
punya tanah diminta menyediakan seperlima dari tanahnya untuk ditanami tanaman
yang laku di pasaran dunia.
2) Tanah yang
disediakan bebas dari pajak.
3) Hasil tanaman itu
harus diserahkan kepada pemerintah Belanda. Apabila harganya melebihi
pembayaran pajak maka kelebihannya akan dikembalikan kepada petani.
4) Waktu untuk menanam
tidak boleh melebihi waktu untuk menanam padi.
5) Kegagalan panenan
menjadi tanggung jawab pemerintah.
6) Wajib tanam dapat
diganti dengan penyerahan tenaga untuk dipekerjakan di pengangkutan,
perkebunan, atau di pabrik-pabrik selama 66 hari.
7)
Penggarapan tanaman di bawah pengawasan langsung oleh kepala-kepala pribumi,
sedangkan pihak Belanda bertindak sebagai pengawas secara umum.
c.Pelaksanaan Tanam Paksa
Sistem tanam paksa tidak
terlalu memberatkan, namun pelaksanaannya sangat menekan dan memberatkan
rakyat. Adanya cultuur procent menyangkut upah yang diberikan kepada penguasa
pribumi berdasarkan besar kecilnya setoran, ternyata cukup memberatkan beban
rakyat. Untuk mempertinggi upah yang diterima, para penguasa pribumi berusaha
memperbesar setoran, akibatnya timbulah penyelewengan-penyelewengan, antara
lain sebagai berikut.
1)
Tanah yang disediakan melebihi 1/5, yakni 1/3 bahkan 1/2, malah ada seluruhnya,
karena seluruh desa dianggap subur untuk tanaman wajib.
2) Kegagalan panen
menjadi tanggung jawab petani.
3) Tenaga kerja yang
semestinya dibayar oleh pemerinah tidak dibayar.
4) Waktu yang
dibutuhkan tenyata melebihi waktu penanaman padi.
5) Perkerjaan di
perkebunan atau di pabrik, ternyata lebih berat daripada di sawah.
6)
Kelebihan hasil yang seharusnya dikembalikan kepada petani, ternyata tidak
dikembalikan.
d. Akibat Tanam Paksa
Pelaksanaan
sistem tanam paksa banyak menyimpang dari aturan pokoknya dan cenderung untuk
mengadakan eskploitasi agraris semaksimal mungkin. Oleh karena itu, sistem
tanam paksa menimbulkan akibat sebagai berikut:
1) Bagi Indonesia (Khususnya Jawa)
a) Sawah ladang menjadi
terbengkelai karena diwajibkan kerja rodi yang berkepanjangan sehingga penghasilan
menurun drastis.
b) Beban rakyat semakin
berat karena harus menyerahkan sebagian tanah dan hasil panennya, membayar
pajak, mengikuti kerja rodi, dan menanggung risiko apabila gagal panen.
c) Akibat
bermacam-macam beban menimbulkan tekanan fisik dan mental yang berkepanjangan.
d) Timbulnya bahaya
kemiskinan yang makin berat.
e) Timbulnya bahaya
kelaparan dan wabah penyakit di mana-mana sehingga angka kematian meningkat
drastis.
Bahaya kelaparan
menimbulkan korban jiwa yang sangat mengerikan di daerah Cirebon (1843), Demak
(1849), dan Grobogan (1850). Kejadian ini mengakibatkan jumlah penduduk menurun
drastis. Di samping itu, juga terjadi penyakit busung lapar (hongorudim) di
mana-mana.
2) Bagi Belanda.
Apabila
sistem tanam paksa telah menimbulkan malapetaka bagi bangsa Indonesia,
sebaliknya bagi bangsa Belanda ialah sebagai berikut:
a) Keuntungan dan
kemakmuran rakyat Belanda.
b) Hutang-hutang
Belanda terlunasi.
c) Penerimaan
pendapatan melebihi anggaran belanja.
d) Kas Negeri Belanda
yang semula kosong dapat terpenuhi.
e) Amsterdam berhasil
dibangun menjadi kota pusat perdagangan dunia.
f)
Perdagangan berkembang pesat.
e.Akhir Tanam Paksa
Sistem tanam paksa yang
mengakibatkan kemelaratan bagi bangsa Indonesia, khususnya Jawa, akhirnya
menimbulkan reaksi dari berbagai pihak, seperti berikut ini.
1) Golongan Pengusaha
Golongan ini
menghendaki kebebasan berusaha. Mereka menganggap bahwa tanam paksa tidak
sesuai dengan ekonomi liberal.
2) Baron Van Hoevel
Ia
adalah seorang missionaris yang pernah tinggal di Indonesia (1847). Dalam
perjalanannya di Jawa, Madura dan Bali, ia melihat penderitaan rakyat Indonesia
akibat tanam paksa. Ia sering melancarkan kecaman terhadap pelaksanaan tanam
paksa. Setelah pulang ke Negeri Belanda dan terpilih sebagai anggota parlemen,
ia semakin gigih berjuang dan menuntut agar tanam paksa dihapuskan.
3) Eduard Douwes Dekker
Ia adalah seorang
pejabat Belanda yang pernah menjadi Asisten Residen Lebak (Banten). Ia cinta
kepada penduduk pribumi, khususnya yang menderita akibat tanam paksa. Dengan
nama samaran Multatuli yang berarti "aku telah banyak menderita",
ditulisnya buku Max Havelaar atau Lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda (1859)
yang menggambarkan penderitaan rakyat akibat tanam paksa dalam kisah Saijah dan
Adinda.
Akibat adanya reaksi
tersebut, pemerintah Belanda secara berangsur-angsur menghapuskan sistem tanam
paksa. Nila, teh, kayu manis dihapuskan pada tahun 1865, tembakau tahun 1866,
kemudian menyusul tebu tahun 1884. Tanaman terakhir yang dihapus adalah kopi
pada tahun 1917 karena paling banyak memberikan keuntungan.
f. Sistem Usaha Swasta
Sesudah
tahun 1850, kaum liberal memperoleh kemengangan politik di Negeri Belanda.
Mereka juga ingin menerapkan asas-asas liberalisme di tanah jajahan. Dalam hal
ini kaum liberal berpendapat bahwa pemerintah semestinya tidak ikut campur
tangan dalam masalah ekonomi; tugas ekonomi haruslah diserahkan kepada
orang-orang swasta; agar kaum swasta dapat menjalankan tugasnya maka harus
diberi kebebasan berusaha.
Sesuai
dengan tuntutan kaum liberal maka pemerintah kolonial segera memberikan peluang
kepada usaha dan modal swasta untuk menanamkan modal mereka dalam berbagai
usaha di Indonesia, terutama perkebunan-perkebunan di Jawa dan di luar Jawa.
Selama periode tahun 1870–1900 Indonesia terbuka bagi modal swasta Barat. Itu
sebabnya zaman itu sering disebut zaman Liberal. Selama masa Liberal, kaum
swasta Barat aktif membuka perkebunan-perkebunan seperti, kopi, teh, gula, dan
kina yang cukup besar di Jawa dan Sumatra Timur.
Pembukaan perkebunan
besar itu dapat dilakukan dengan adanya Undang-Undang Agraria 1870. Adapun
tujuannya ialah sebagai berikut.
1) Untuk melindungi hak
milik petani-petani pribumi atas tanahnya, dari penguasaan orang-orang asing.
2) Peluang kepada para
pengusaha asing untuk dapat menyewa tanah dari rakyat Indonsia.
Dengan demikian, para
pengusaha hanya dapat diperbolehkan menyewa tanah-tanah petani dalam jangka
waktu tertentu dan tidak boleh membelinya.
Dalam Undang-Undang
Agraria juga telah disebutkan bahwa tanah yang boleh disewa digolongkan menjadi
dua macam.
1) Tanah milik negara,
yaitu tanah-tanah yang tidak secara langsung menjadi milik penduduk pribumi (
di luar wilayah desa). Tanah ini dapat disewa selama 75 tahun.
2) Tanah milik penduduk
pribumi, misalnya sawah, ladang, dan yang sejenis yang dimiliki langsung oleh
penduduk desa. Tanah ini dapat disewa dalam jangka waktu 5 tahun atau sampai
dengan 30 tahun.
Harapan
kaum liberal untuk membuka tanah jajahan bagi perkembangan ekonomi Hindia
Belanda ternyata dapat tercapai. Perkebunan gula, kopi, tembakau, dan
tanaman-tanaman perdagangan lainnya diusahakan secara luas dan meningkat secara
cepat. Untuk memperlancar perkembangan produksi tanaman ekspor maka pemerintah
membangun waduk-waduk dan saluran-saluran irigasi. Selain irigasi juga dibangun
jalan-jalan raya, jembatan-jembatan, dan jalan kereta api. Pembangunan jalan
dimaksudkan untuk menunjang kelancaran pengangkutan hasil-hasil perusahaan
perkebunan dari daerah pedalaman ke daerah pantai atau pelabuhan yang kemudian
diteruskan ke luar.
Selama
zaman Liberal (1870–1900), usaha-usaha perkebunan swasta Barat mengalami
kemajuan pesat dan mendatangkan keuntungan yang besar bagi pengusaha. Kekayaan
alam Indonesia mengalir ke Negeri Belanda. Akan tetapi, bagi penduduk pribumi,
khususnya di Jawa telah membawa kemerosotan kehidupan dan kemunduran tingkat
kesejahteraan. Hal ini sangat terasa sejak adanya krisis perkebunan tahun 1885
yang mengakibatkan uang sewa tanah dan upah pekerja di pabrik serta perkebunan
menurun.
Pada
akhir abad ke-19, muncullah kritik-kritik tajam yang ditujukan kepada
pemerintah Hindia Belanda akibat praktik liberalisme yang gagal memperbaiki
nasib kehidupan rakyat Indonesia. Para pengkritik menganjurkan untuk
memperbaiki nasib rakyat Indonesia. Kebijaksanaan ini didasarkan atas anjuran
Mr. C. Th. Van Deventer yang menuliskan buah pikirannya dalam majalah De Gids
(perinstis/pelopor) dengan judul Een Ereschuld (Berhutang Budi) sehingga
dikenal dengan nama politik etis atau politik balas budi. Gagasan Van Deventer
terkenal dengan nama Trilogi Van Deventer yang isinya sebagai berikut.
1) irigasi atau
pengairan (memperbaiki pengairan);
2) emigrasi atau
pemindahan penduduk atau transmigrasi;
3) edukasi atau
pendidikan (memajukan pendidikan).
D.Sistem Ekonomi
Kapitalis-Liberal
1.Pengertian Sistem Ekonomi Kapitalis
Kapitalis berasal dari kata capital,
secara sederhana dapat diartikan sebagai ‘modal’. Didalam sistem kapitalis,
kekuasaan tertinggi dipegang oleh pemilik modal, dimana dalam perekonomian
modern pemilik modal dalam suatu perusahaan merupakan para pemegang saham.
Sistem ekonomi kapitalis
adalah sistem ekonomi yang aset-aset produktif dan faktor-faktor produksinya
sebagian besar dimiliki oleh sektor individu/swasta. Sementara tujuan utama
kegiatan produksi adalah menjual untuk memperoleh laba.
Sistem perekonomian kapitalis
merupakan sistem perekonomian yang memberikan kebebasan kepada setiap orang
untuk melaksanakan kegiatan perekonomian seperti memproduksi barang, menjual
barang, menyalurkan barang dan lain sebagainya.
Dalam perekonomian kapitalis
setiap warga dapat mengatur nasibnya sendiri sesuai dengan kemampuannya. Semua
orang bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh laba sebesar- besarnya dan
bebas melakukan kompetisi untuk memenangkan persaingan bebas
Tokoh yang mempopulerkan
sistem ekonomi Kapitalis adalah Adam Smith. Bukunya yang terkenal berjudul An
Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nation. Adam Smith
menyatakan bahwa “perekonomian akan berjalan dengan baik apabila pengaturannya
diserahkan kepada mekanisme pasar atau mekanisme harga”. Teori ini kemudian dikenal
dengan sebutan The Invisible Hands. Sistem ekonomi Kapitalis merupakan suatu
tata cara pengaturan kehidupan perekonomian yang didasarkan kepada Mekanisme
pasar yaitu interaksi antara permintaan dan penawaran suatu barang yang
kegiatannya tergantung pada kekuatan modal yang dimiliki oleh setiap individu.
2.Lahirnya Ekonomi Kapitalis
Perkembangan kapitalisme pada negara terbelakang menjadi sebuah topik menarik
untuk dikaji. Gejala kapitalisme dianggap sebagai sebuah solusi untuk melakukan
pembangunan di negara terbelakang. Teori sistem dunia yang disampaikan oleh
Wallerstein merupakan keberlanjutan pemikiran Frank dengan teori
depensasinya.Pendapat Frank, Sweezy dan Wallerstein mengacu pada model yaang
dikenal oleh Adam Smith.
Menurut A
Smith, pembangunan yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
memiliki kesamaan dengan pembangunan produktivitas tenaga kerja, pembagian
kerja. Konsep inilah yang kemudian memunculkan pembedaan mode produksi menjadi
sektor pertanian dan manufaktur. Konsep ini kemudian semakin berkembang dengan
munculnya pembedaan desa dan kota sebagai sebuah mode produksi yang berbeda.
Inti pemikiran Adam Smith
adalah bahwa proses produksi dan distribusi ini harus lepas dari campur tangan
pemerintah dan perdagangan bebas. Proses ekonomi hanya akan berjalan melalui
tangan- tangan tak kelihatan yang mengatur bagaimana produksi dan distribusi
kekayaan ekonomi itu berjalan secara adil. Biarkan para pengusaha, tenaga
kerja, pedagang bekerja mencari keuntungan sendiri. Siapapun tak boleh
mencampurinya, karena ekonomi hanya bisa muncul dari perdagangan yang adil.
Karenanya pemerintah harus menjadi penoton tak berpihak. Ia tak boleh mendukung
siapapun yang sedang menumpuk kekayaan pun yang tak lagi punya kekayaan.
Tangan- tangan tak kelihatan akan menunjukkan bagaimana semua bekerja secara
adil, secara fair.
Kenyataan
yang terjadi dalam proses kapitalisme telah menimbulkan dampak berupa
pertumbuhan ekonomi yang terjadi karena arus pertukaran barang dan jasa serta
spesialisasi tenaga kerja. Kerangka pertukaran barang dan jasa serta
spesialisasi tenaga kerja ini terwujud dalam bentuk peningkatan produktivitas
yang dikenal dengan konsep maksimalisasi keuntungan dan kompetisi pasar
Kapitalisme sebagai suatu sistem ekonomi yang memungkinkan beberapa individu
menguasai sumber daya vital dan menggunakannya untuk keuntungan
maksimal.Maksimalisasi keuntungan menyebabkan eksploitasi tenaga kerja murah,
karena tenaga kerja adalah faktor produksi yang paling mudah direkayasa
dibandingkan modal dan tanah.
Kapitalisme pada awalnya
berkembang bukan melalui eksploitasi tenaga kerja murah, melainkan eksploitasi
kepada kaum petani kecil. Negara terbelakang merupakan penghasil barang mentah
terutama dalam sektor pertanian. Kapitalisme masuk melalui sistem perdagangan
yang tidak adil, dimana negara terbelakang menjual barang mentah dengan harga
relatif murah sehingga menyebabkan eksploitasi petani. Masuknya sistem
perdagangan menyebabkan petani subsisten menjadi petani komersil yang ternyata
merupakan bentuk eksploitasi tenaga kerja secara tidak langsung. Perkembangan
selanjutnya telah melahirkan industri baru yang memerlukan spesialisasi tenaga
kerja.
Kapitalisme yang
menitikberatkan pada spesialisasi tenaga kerja dan teknologi tinggi membutuhkan
tenaga kerja yang terampil dan menguasai teknologi. Keadaan ini sangat sulit
terwujud pada negara pinggiran. Proses ini hanya akan melahirkan tenaga kerja
kasar pada negara pinggiran, sedangkan tenaga kerja terampil dikuasai oleh
negara pusat. Ketidakberdayaan tenaga kerja padaa negara pinggiran merupakan
keuntugan bagi negara pusat untuk melakukan eksploitasi. Ekspansi kapitalisme
melalui investasi modal dan teknologi tinggi pada negara pinggiran disebabkan
oleh tersedianya tenaga kerja yang murah
Kapitalisme yang menjalar hingga negara terbelakang menjadikan struktur sosial
di negara terbelakang juga berubah. Kapitalisme memunculkan kelas sosial baru
di negara terbelakang yaitu kelas pemilik modal. Berkembangnya ekonomi
kapitalisme ini didukung oleh sistem kekerabatan antar mereka. Kelas borjuis di
negara terbelakang juga dapat memanfaatkan dukungan politik dari pemerintah.
Sebagai sebuah kesatuan ekonomi dunia, asumsi Wallerstein akan adanya
perlawanan dari negara terbelakang sebagai kelas tertindas oleh negara pusat
menjadi hal yang tidak mungkin terjadi.
Dari uraian diatas terlihat bahwa kapitalisme yang pada awalnya hanyalah
perubahan cara produksi dari produksi untuk dipakai ke produksi untuk diujal,
telah merambah jauh menjadi dibolehkannya pemilikan barang sebanyak- banyaknya,
bersama- sama juga mengembangkan individualisme, komersialisme, liberalisasi,
dan pasar bebas.
Kapitalisme tidak hanya
merubah cara- cara produksi atau sistem ekonomi saja, namun bahkan memasuki
segala aspek kehidupan dan pranata dalam kehidupan masyarakat, dari hubungan
antar negara bahkan ketingkat antar individu.Sehingga itulah kita mengenal
tidak hanya perusahaan- perusahaan kapitalis, tapi juga struktur masyarakat dan
bentuk negara.
Upaya untuk memerangi
kapitalisme bukan dengan sistem ekonomi sosialis namun dengan kemandirian
ekonomi dan swasembada.
Ciri-ciri kapitalis
secara umum,yaitu:
1.
Alat-alat produksi ditangan perorangan
tidak ditangan pemerintah
2.
Harga sangat tergantung pada penawaraan
dan permintaan.
3.
Adanya kemerdekaan disegala
bidang,seperti berusaha,mencari pekerjaan,memilih barang konsumsi,dan bersaing.
Menurut winardi,sistem
ekonomi kapitalisme secara umum,yaitu:
a.
Hak milik privat (kebebasaan)
b.
Kebebasaan berusaha dan memilih.
c.
Motif pokok yang berpusat pada
kepentingan diri sendiri.
d.
Persaingan
e.
Ketergantungan pada sistem harga.
f.
Peranan terbatas bagi pihak pemerintah.
Sistem ekonomi
kapitalis dibagi menjadi 2,yaitu:
1.
Sistem kapitalisme murni
Ciri-ciri
adalah:
-
Perekonomian tidak dikontrol oleh
pemerintah.
-
Pemerintah hanya memenuhi kebutuhan
kolektof saja.
-
Pemerintah tidak menentukan dimana
masyarakat bekerja,apa yang diproduksi dan tidak mengontrol konsumsi.
-
Masyarakat bebas memilih pekerjaan
sesuai dengan kemampuan
-
Masyarakat bebas menjalankan pendapatnya
untuk benda apapun dan bebas untuk tidak dibelanjakan atau ditabung.
-
Produksi tergantung pada pihak swasta.
2.
Sistem Kapitalisme Modern:
Ciri-ciri
adalah:
-
Benda-benda yang diproduksi berdasarkan
keinginan konsumen
-
Persaingan yang terjadi berdasarkan
mekanisme pasar
-
Adanya sedikit campur tangan pemerintah
dalam memiliki alat-alat produksi
Kelebihan Sistem Ekonomi Kapitalis
Sistem ekonomi kapitalis memiliki kelebihan, diantaranya :
- Menumbuhkan kreativitas masyarakat dalam penyelenggaraan perekonomian, sebab masyarakat diberi kebebasan melakukan segala hal yang terbaik bagi dirinya dalam menentukan kegiatan perekonomian;
- Kualitas produk yang dihasilkan menjadi lebih baik, sebab terjadinya persaingan yang ketat
- Efisiensi dalam penggunaan faktor-faktor produksi dapat tercapai dengan baik, sebab tindakan ekonomi yang dilakukan didasarkan kepada motif pencarian keuntungan yang sebesar-besarnya.
Kelemahan Sistem
Kapitalisme
Sistem ekonomi kapitalis memiliki
kelemahan, diantaranya :
- Tidak ada persaingan sempurna. Yang ada persaingan bebas yang monopolistik dan tidak sehat.
- Masyarakat yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Terapat kesenjangan yang besar antara pemilik modal dan golongan pekerja sehingga yang kaya lebih kaya dan yang miskin bertambah miskin.
- Tidak tertutup kemungkinan munculnya monopoli yang merugikan masyarakat
- Banyak terjadinya gejolak dalam perekonomian karena kesalahan alokasi sumber daya oleh individu.
- Pemerataan pendapatan sulit dilakukan, karena persaingan bebas tersebut. Sulitnya melakukan pemerataan pendapatan dikarenakan prinsip yang belaku adalah free fight liberalism, dimana kunci untuk memenangkan persaingan adalah modal.
Kecenderungan Bisnis Dalam Kapitalisme
Perkembangan bisnis sangat
dipengaruhi oleh sistem ekonomi yang berlaku. Kecenderungan bisnis dalam kapitalisme
dewasa ini adalah adanya spesialisasi, adanya produksi massa, adanya perusahaan
berskala besar, adanya perkembangan penelitian.
Negara-negara yang menganut sistem ekonomi kapitalis
antara lain :
Benua
Amerika : AS, Argentina, Bolivia, Brazil, Chili, dll.
• Benua Eropa : Austria, Belgia, Kroasia, Cekoslavia, dll.
• Benua Asia : India, Iran, Thailand, Jepang, Filipina, dll.
• Benua Afrika : Mesir, Senegal, Afrika Selatan.
• Kepulauan Oceania : Australia dan Selandia baru.
• Benua Eropa : Austria, Belgia, Kroasia, Cekoslavia, dll.
• Benua Asia : India, Iran, Thailand, Jepang, Filipina, dll.
• Benua Afrika : Mesir, Senegal, Afrika Selatan.
• Kepulauan Oceania : Australia dan Selandia baru.
Sistem Ekonomi Liberal
Sistem ekonomi liberal/kapitalis
disebut juga sistem ekonomi pasar yaitu sistem ekonomi dimana pengelolaan
ekonomi diatur oleh kekuatan pasar. Sistem ekonomi ini menghendaki adanya
kebebasan individu dalam melakukan kegiatan ekonomi. Artinya, setiap individu
diakui keberadaannya dan mereka bebas bersaing. Dilain pihak, pemerintah tidak
boleh ikut campur dalam kegiatan ekonomi. Pemerintah hanya bertugas melindungi,
menjaga, dan memberi fasilitas agar setiap individu dapat menjalankan hal dan
kebebasannya dengan sebaik-baiknya.
Ciri-ciri Sistem Ekonomi Liberal :
1. Menerapkan sistem
persaingan bebas
2. Adanya pengakuan terhadap hak
individu
3. Setiap individu bebas memiliki barang
dan alat-alat produksi
4. Kedaulatan konsumen
dan kebebasan dalam konsumsi
5. Motif mencari laba terpusat pada
kepentingan sendiri
6. Peranan modal sangat penting
7. Peranan pemerintah dibatasi
Kebaikan Sistem Ekonomi Liberal :
1. Setiap orang bebas menentukan
perekonomian sendiri
2. Setiap orang bebas memiliki alat
produksi sendiri
3. Kegiatan ekonomi lebih cepat maju
karena persaingan
4. Produksi didasarkan kehan masyarakat
Keburukan Sistem Ekonomi Liberal :
1. Menimbulkan penindasan terhadap
manusia lain
2. Pengusaha yang bermodal kecil akan
semkin tersisih
3. Menimbulkan monopoli sehingga
merugikan masyarakat
4. Dapat menciptakan kesenjangan yang
terjadi antara masyarakat kaya dan masyarakat miskin
5. Renta terhadap krisis ekonomi
Sistem ekonomi
liberal banyak diteapkan di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Contoh
Negara yang menerapkan sistem ekonomi liberal yaitu Belanda, Inggris, Prancis,
Swedia, dan Jerman.
E. Era Pendudukan Jepang
Masa pendudukan Jepang di
Indonesia yang bermula pada tahun 1941 merupakan periode yang penting dalam
perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Pendudukan Jepang di Indonesia ditujukan
untuk mewujudkan Persemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Usaha untuk
merealisasikan ide tersebut ditandai dengan adanya perombakan yang terjadi pada
era Restorasi Meiji. Terjadinya Restorasi Meiji membuahkan hasil yang teramat
penting dalam sejarah Jepang. Pasca restorasi, jepang seolah memiliki suatu
kekuatan nihil melewati batas kekuatan Asia. Sebagai pemicu realisasi Invasi
Jepang ke kawasan benua Asia dengan jargon membentuk Asia Timur Raya. Suatu
cita-cita Jepang membentuk kawasan persemakmuran bersama terhadap Negara-negara
di Asia yang ditindas sekutu melalui fasisnya. Hal senada juga diungkapkan oleh
Cahyo (1995) yang mengatakan Pendudukan Jepang di Indonesia merupakan rangkaian
dari politik imperialismenya di Asia Tenggara.
Keinginan yang begitu besar
dan ambisius guna melancarkan ambisinya untuk membangun suatu imporium di
kawasan Asia, maka Jepang dengan mulai mempertimbangkan basis-basis kekuatan
yang akan dihadapinya. Amerika Serikat yang pada masa tersebut dianggap Jepang
sebagai negara yang memiliki basis terkuat dari sekian banyak negara yang akan
dihadapinya. Langkahnya dari keinginan tersebut direalisasikan oleh pemerintah
Jepang dengan memunculkan perang di Pasifik. Disamping hal tersebut, rupanya
Jepang melihat adanya suatu kesempatan yang menguntungkan mereka dari situasi
yang sedang dihadap oleh Amerika Serikat pada masa tersebut. Silalahi (2001)
mengatakan bahwa keterlibatan Amerika Serikat dalam peperangan di Eropa melawan
Nazi Jerman, memberi kesempatan pada Jepang untuk memegang hegemoni di Asia.
Berdasarkan penjelasan tersebut, jelas bahwa konsentrasi Amerika Serikat akan
terpecah karena memfokuskan pada urusan perang melawan Jerman, dan tidak
mendukan bahwa Jepang memanfaatkan situasi dan kondisi tersebut.
Keinginan Jepang kian
menunjukan gerakan yang sporadis guna merealisasikan niatnya menjadi penguasa baru
di kawasan Asia. Pada tangal 7 Desember 1941 jam 01.40 pagi, Pearl Harbour di
bombardir oleh bala tentara Jepang. Dalam serangan tersebut mengakibatkan 18
kapal Amerika Serikat ditenggelamkan dan 188 buah pesawat dihancurkan, 158 unit
pesawat dirusak, 105 awak kapal Arizona tewas, 47 Perwira dan 1.056 awaknya
terbunuh dan hilang jumlah korban semuanya mencapai 2.403 meninggal dunia dan
1.178 luka-luka. Sebaliknya pasukan Jepang hanya kehilangan 21 pesawat terbang
dan 5 midget submarine dan korban ratusan prajurit saja.
Menurut Moedjanto (1974)
maksud dari serangan tersebut adalah untuk melumpuhkan kekuatan Amerika
Sserikat di Asia Pasifik, wilayah yang dijajah Inggris-Belanda-Perancis dan
Amerika Sendiri (Philipina) terus ke Australia bisa berlangsung dengan cepat
dan aman. Sehari kemudian setelah penyerbuan Pearl Harbour, Gubernur Jendral
Tjarda memaklumkan Hindia-Belanda dalam keadaan perang melawan Jepang.
Penyerbuan ke daerah-daerah Selatan dilakukan oleh baik Angkatan Darat maupun Angkatan
Laut Jepang. Kedua angkatan perang tersebut telah dibagi tugas masing-masing,
dimana Angkatan Darat yang sudah menduduki Indo-China sebelum perang Pasifik
pecah, bertugas merebut Malaya, Sumatera, Luzon dan Burma. Sedangkan Angkatan
Lautnya bertugas menyerang Pearl Harbour, Mindanau, Kalimantan, Sulawesi, Irian
dan pulau-pulau Pasifik. Kedua angkatan perang tersebut akan menyerbu Jawa,
sebagai pusat kekuatan dan militer Belanda dan Sekutu.
Pembagian tugas perdivisi
antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut Jepang yang terkonsep dengan baik
dengan target sasaran yang jelas membuat pekerjaan mereka terasa semakin mudah.
Suhartono (2010) mengatakan bahwa Kemenangan pasukan Jepang seolah-olah tak
terkendali yang berturut-turt menghancurkan basis militer Amerika Serikat di
Guam (10 Desember 1941), Wake (23 Desember 1941), dan pertahanan Amerika
Serikat di di kepulauan Biscmark jatuh pada tanggal 23 Januari 1942.
Koloni Inggris, Hong Kong jatuh ke tangan pada tanggal 25 Desember 1941. Pada
pertengahan Mei 1941 Jepang berhasil menduduki Burma, Serangan Jepang berlanjut
ke Singapura setelah terlebih dahulu menduduki Thailand pad tanggal 8 Desember
1941. Jepang berhasil menduduki Singapura pad tanggal 15 Februari 1942 setelah
Jendral Arthur E. Purvical. Selanjutnya Jepang mengincar Indonesia yang kaya
minyak tanah, karet, timah dan alumunium.
Pada tanggal 10 Januari
tentara Jepang telah mendarat di Tarakan Kalimantan Timur. Tarakan adalah
daerah pertama di bumi Indonesia yang di duduki oleh Jepang Pada tanggal 24
Januari 1942, Balikpapan yang merupakan sumber minyak kedua jatuh ketangan
tentara Jepang. Kemudian pada tanggal 29 Januari 1942 Pontianak berhasil
diduduki dan Samarina pada tanggal 3 Februari 1942. Penyerangan berlanjut ke
Banjarmasin yang berhasil dikuasai bala tentara Jepang pada tanggal 10 Februari
1942. Dalam gerakannya ke Indonesia, pada tanggal 14 Februari 1942 diturunkan
pasukan payung di Palembang, dua hari kemudian yakni tanggal 16 Februari 1942
Palembang dan sekitarnya berhasil dikuasai. Dengan berhasilnya pasukan Jepang
menduduki Palembang sebagai sumber minyak, maka terbukalah pulau Jawa bagi
tentara Jepang.
Pada tanggal 1 Maret 1942,
pasukan Jepang berhasil mendarat di pulau Jawa. (Silalahi, 2001) Namun
demikian, dengan keberhasilan dari tindakan agresif pasukan Jepang yang dalam
waktu singkat mampu menguasai berbagai wilayah di Indonesia menandingi bahkan
menguasai daerah rivalitasnya di Asia ternyata mendapat pertentangan dari
lawan-lawannya. Pertentangan itu datang dari kekuatan serikat yang terdiri dari
3 resimen infanteri Belanda, 3 Batalyon Australia dengan dukungan 2 kompi
Akademi Militer Kerajaan (KMA) dan Korps Pendidikan Perwira Cadangan (CORO) di
Jawa Barat. Kekuatan lainnya di Jawa Tengah terdiri dari 4 batalyon infanteri,
sedangkan di Jawa Timur terdiri 3 batalyon pasukan bantuan Indonesia dan 1
batalyon pasukan marinir yang kesemuanya dibantu oleh satuan-satuan altireli,
diantaranya terdapat satuan dari Inggris dan Amerika. Kekuatan serikat tersebut
berhadapan dengan pasukan Jepang yang mendaratkan Divisi ke-2 di Jawa Barat dan
Divisi ke-48 (Poesponegoro dan Notosusanto, 1984)
Daerah Jawa benar-benar
mengalami kepungan dari berbagai penjuru. Jepang melancarkan serangan serentak
dengan mengerahkan ketiga angkatan perangnya. Angkatan Laut Belanda mencoba
menghalang-halangi pendaratan tersebut, namun tidak berhasil. Pertempuran di
Laut Jawa terjadi pada tanggal Februari 1942 dan berhasil dimenangkan oleh
pihak Jepang. Pasukan Belanda dibawah komando Laksamana Karel Doorman terpukul
bersama sejumlah kapal perang Belanda berhasil dikirim pasukan Jepang ke dasar
laut. Sesudah itu, tentara Jepang dibawah pimpinan Jendral Imamura berhasil
melakukan pendaratan di tiga tempat pada tanggal 1 Maret 1942 yaitu di pantai
Banten, Indramayu, dan Bojonegoro. (Moedjanto, 1974) Kemenangan invasi Jepang
di Jawa itu menunjukan jumlah yang lebih besar daripada kekuatan pihak serikat.
Disamping itu pihak Jepang memiliki bantuan udara taktis, sebaliknya pihak
Belanda tidak memilikinya karena telah berhasil dihancurkan pada
pertempuran-pertempuran pertama di bagian-bagian lain Indionesia maupun di
Malaya. (Poesponegoro dan Notosusanto, 1984)
Pertempuran-pertempuran di
Jawan berakhir dengan kemenangan pihak Jepang dalam waktu yang sangat singkat.
Serbuan-serbuan dilakukan pihak Jepang di beberapa tenpat di Jawa sejak 1 Maret
1942, memaksa Belanda untuk segera menyerah. Akhirnya pada tanggal 8 Maret
1942, di Kalijati tentara dan pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat
kepada Jepang. Sejak itu berakhirpula pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia,
dan dengan resmi ditegakkan kekuataan kemaharajaan Jepang. Jepang tidak hanya
ingin meng-eyahkan kekuasaan politik bangsa Barat di kawasan Asia Pasifik,
sebagaimana dicita-citakannya, tetapi juga ingin menjadi “Tuhan Besar” di Asia
Pasifik. (Cahyo, 1995). Berakhirnya kekuasaan pemerintah Belanda di Indonesia
yang digantikan oleh Jepang menandai masa baru dalam sejarah perjalanan Bangsa
Indonesia yang selama 3,5 Abad berada dibawah kung-kungan, tekanan, penindasan
dan berbagai tindakan yang dilakukan oleh Belanda. Lahirnya masa baru tersebut
di anggap sebagai kebebasan oleh rakyat Indonesia dan menyambutnya dengan
sukacita.
F.Cita-cita
Ekonomi Merdeka
Perekonomian global sedang
anjlok. Namun, pada saat bersamaan, perekonomian Indonesia justru tumbuh.
Memasuki tahun 2013, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi 6,5 persen. Lalu,
juga pada tahun 2013 mendatang, PDB Indonesia diperkirakan 1 Triliun USD.
Gara-gara angka-angka di atas,
banyak orang terkesima dengan performa ekonomi Indonesia. Banyak yang mengira,
dengan pertumbuhan ekonomi sepesat itu, bangsa Indonesia sudah sejahtera. Lembaga
rentenir Internasional, IMF (Dana Moneter Internasional), turut terkesima dan
memuja-muja pertumbuhan itu.
Namun, fakta lain juga sangat
mencengankan. Indeks Gini, yang mengukur tingkat kesenjangan ekonomi, meningkat
pesat dalam beberapa tahun terakhir. Data Biro Pusat Statistik (BPS)
menyebutkan, tingkat kesenjangan ekonomi pada 2011 menjadi 0,41. Padahal, pada
tahun 2005, gini rasio Indonesia masih 0,33.
Data lain juga menunjukkan, kekayaan 40 orang
terkaya Indonesia mencapai Rp680 Triliun (71,3 miliar USD) atau setara dengan
10,33% PDB. Konon, nilai kekayaan dari 40 ribu orang itu setara dengan kekayaan
60% penduduk atau 140 juta orang. Data lain menyebutkan, 50 persen kekayaan
ekonomi Indonesia hanya dikuasai oleh 50 orang.
Pertumbuhan ekonomi yang spektakuler
itu tidak mencerminkan kesejahteraan rakyat. Yang terjadi, sebagian besar aset dan
pendapat ekonomi hanya dinikmati segelintir orang. Sementara mayoritas rakyat
tidak punya aset dan akses terhadap sumber daya ekonomi. Akhirnya, terjadilah
fenomena: 1% warga negara makin makmur, sementara 99% warga negara hidup
pas-pasan.
Bung Hatta pernah berkata,
“dalam suatu Indonesia Merdeka yang dituju, yang alamnya kaya dan tanahnya
subur, semestinya tidak ada kemiskinan. Bagi Bung Hatta, Indonesia Merdeka tak
ada gunanya jika mayoritas rakyatnya tetap hidup melarat. “Kemerdekaan nasional
tidak ada artinya, apabila pemerintahannya hanya duduk sebagai biduanda dari
kapital asing,” kata Bung Hatta. (Pidato Bung Hatta di New York, AS, tahun
1960)
Karena itu, para pendiri
bangsa, termasuk Bung Karno dan Bung Hatta, kemudian merumuskan apa yang
disebut “Cita-Cita Perekonomian”. Ada dua garis besar cita-cita perekonomian
kita. Pertama, melikuidasi sisa-sisa ekonomi kolonial dan feodalistik. Kedua,
memperjuangkan terwujudnya masyarakat adil dan makmur.
Berarti cita-cita perekonomian
kita tidak menghendaki ketimpangan. Para pendiri bangsa kita tidak menginginkan
penumpukan kemakmuran di tangan segelintir orang tetapi pemelaratan mayoritas
rakyat. Tegasnya, cita-cita perekonomian kita menghendaki kemakmuran seluruh
rakyat.
Supaya cita-cita perekonomian
itu tetap menjiwai proses penyelenggaran negara, maka para pendiri bangsa
sepakat memahatkannya dalam buku Konstitusi Negara Indonesia adalah Pasal 33
UUD 1945. Dengan demikian, Pasal 33 UUD 1945 merupakan sendi utama bagi
pelaksanaan politik perekonomian dan politik sosial Republik Indonesia.
Dalam pasal 33 UUD 1945, ada
empat kunci perekonomian untuk memastikan kemakmuran bersama itu bisa tercapai.
Pertama, adanya keharusan bagi peran negara yang bersifat aktif dan efektif.
Kedua, adanya keharusan penyusunan rencana ekonomi (ekonomi terencana). Ketiga,
adanya penegasan soal prinsip demokrasi ekonomi, yakni pengakuan terhadap
sistem ekonomi sebagai usaha bersama (kolektivisme). Dan keempat, adanya
penegasan bahwa muara dari semua aktivitas ekonomi, termasuk pelibatan sektor
swasta, haruslah pada “sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
Sejak orde baru hingga sekarang ini, proses
penyelenggaran negara sangat jauh politik perekonomian dari pasal 33 UUD 1945.
Pada masa orde baru, sistem perekonomian kebanyakan didikte oleh kapital asing
melalui kelompok ekonom yang dijuluki “Mafia Barkeley”. Lalu, pada masa pasca
reformasi ini, sistem perekonomian kebanyakan didikte secara langsung oleh
lembaga-lembaga asing, seperti IMF, Bank Dunia, dan WTO.
Akibatnya, cita-cita
perekonomian sesuai amanat Proklamasi Kemerdekaan pun kandas. Bukannya
melikuidasi sisa-sisa ekonomi kolonial, tetapi malah mengekal-kannya,
yang ditandai oleh menguatnya dominasi kapital asing, politik upah murah,
ketergantungan pada impor, dan kecanduan mengekspor bahan mentah ke
negeri-negeri kapitalis maju.
Ketimpangan ekonomi kian menganga. Kemiskinan dan
pengangguran terus melonjak naik. Mayoritas rakyat (75%) bekerja di sektor
informal, tanpa perlindungan hukum dan jaminan sosial.
G.Ekonomi Indonesia setiap periode pemerintahan orde lama,orde
baru,dan reformasi
1. PEMERINTAHAN
ORDE LAMA
Sejak
berdirinya negara Republik Indonesia, sudah banyak tokok-tokoh negara yang
saat itu telah merumuskan bentuk perekonomian yang tepat bagi bangsa Indonesia,
baik secara individu maupun diskusi kelompok. Tetapi pada pemerintah orde lama
masih belum mampu memperbaiki keadaan ekonomi negara Republik Indonesia yang
memburuk.
Ciri-ciri
pemerintahan pada masa Orde Lama adalah :
a. peran dominan presiden
b. terbatasnya partai politik
c. berkembangnya pengaruh komunis
d. meluasnya peran ABRI sebagai unsur sosial politik.
- Orde lama (Demokrasi Terpimpin)
a. peran dominan presiden
b. terbatasnya partai politik
c. berkembangnya pengaruh komunis
d. meluasnya peran ABRI sebagai unsur sosial politik.
- Orde lama (Demokrasi Terpimpin)
Keadaan
ekonomi keuangan pada masa awal kemerdekaan amat buruk, antara lain
disebabkan oleh :
a. Inflasi yang sangat tinggi, disebabkan karena beredarnya
lebih dari satu mata uang secara tidak terkendali. Pada waktu itu, untuk sementara
waktu pemerintah RI menyatakan tiga mata uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu
mata uang De Javasche Bank, mata uang pemerintah Hindia Belanda, dan mata uang
pendudukan Jepang.
b. Adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945
untuk menutup pintu perdagangan luar negeri RI.
c.
Kas negara kosong.
d.
Eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi
kesulitan-kesulitan ekonomi, antara lain:
a. Program Pinjaman Nasional dilaksanakan oleh menteri keuangan
Ir. Surachman dengan persetujuan BP-KNIP, dilakukan pada bulan Juli
1946.
b. Upaya menembus blokade dengan diplomasi beras ke India,
mangadakan kontak dengan perusahaan swasta Amerika, dan menembus blokade
Belanda di Sumatera dengan tujuan ke Singapura dan Malaysia.
c. Konferensi Ekonomi Februari 1946 dengan tujuan untuk
memperoleh kesepakatan yang bulat dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi
yang mendesak, yaitu : masalah produksi dan distribusi makanan, masalah
sandang, serta status dan administrasi perkebunan-perkebunan.
d. Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) 19
Januari 1947
Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948
Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948
e. Kasimo Plan yang intinya mengenai usaha swasembada pangan
dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Dengan swasembada pangan,
diharapkan perekonomian akan membaik (mengikuti Mazhab Fisiokrat : sektor
pertanian merupakan sumber kekayaan).
- Masa Demokrasi Liberal (1950-1957)
Masa ini disebut masa liberal, karena dalam politik maupun
sistem ekonominya menggunakan prinsip-prinsip liberal. Perekonomian diserahkan
pada pasar sesuai teori-teori mazhab klasik yang menyatakan laissez faire
laissez passer. Padahal pengusaha pribumi masih lemah dan belum bisa bersaing
dengan pengusaha nonpribumi, terutama pengusaha Cina. Pada akhirnya sistem ini
hanya memperburuk kondisi perekonomian Indonesia yang baru merdeka.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi,
antara lain :
a) Gunting Syarifuddin, yaitu pemotongan nilai uang (sanering)
20 Maret 1950, untuk mengurangi jumlah uang yang beredar agar tingkat
harga turun.
b) Program Benteng (Kabinet Natsir)
c) Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 15
Desember 1951 lewat UU no.24 th 1951 dengan fungsi sebagai bank sentral dan
bank sirkulasi.
d) Sistem ekonomi Ali-Baba (kabinet Ali Sastroamijoyo I) yang
diprakarsai Mr Iskak Cokrohadisuryo
e) Pembatalan sepihak atas hasil-hasil Konferensi Meja Bundar,
termasuk pembubaran Uni Indonesia-Belanda.
-
Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967)
Sebagai akibat dari dekrit presiden 5 Juli 1959, maka Indonesia
menjalankan sistem demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus
pada sistem etatisme (segala-galanya diatur oleh pemerintah). Dengan sistem
ini, diharapkan akan membawa pada kemakmuran bersama dan persamaan dalam
sosial, politik,dan ekonomi (mengikuti Mazhab Sosialisme). Akan tetapi,
kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah di masa ini belum mampu
memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia.
Orde Lama
Sistem Ekonomi yang dipakai bersifat Sosialis.
Kelebihan : Adanya kepercayaan diri bangsa Indonesia
akan kekuatan yang dimilikinya. Kemandirian Ekonomi.
Kelemahan : Kurang diminatinya Indonesia sebagai
tempat investasi asing. Terhentinya dana asing.
Penyatuan semua mata uang dan di terbitkan mata uang
baru, Pengguntiang uang Gunting Syafruddin
Berakhirnya Orde Lama
setelah turunnya presiden soekarno dari
tumpuk kepresidenan maka berakhirlah orde lama.kepemimpinan disahkan kepada
jendral soeharto mulai memegang kendali.pemerintahan dan menanamkan era
kepemimpinanya sebagai orde baru konsefrasi penyelenggaraan sistem pemerintahan
dan kehidupan demokrasi menitipberatkan pada aspek kestabilan politik dalam
rangka menunjang pembangunan nasional.untuk mencapai titik-titik tersebut
dilakukanlah upaya pembenahan sistem keanekaragaman dan format politik yang
pada prinsipnya mempunyai sejumlah sisi yang menonjol,yaitu:
-
adanya konsep difungsi ABRI
-
pengutamaan golonga karya
-
manifikasi kekuasaan di tangan eksekutif
-
sistem pengangkatan dalam lembaga-lembaga pendidikanpejabat
-
kejaksaan depolitisan khususnya masyarakat pedesaan melalui konsep masca
mengembang [flating mass]
karal kehidupan pers
konsep diafungsi ABRI pada masa itu secara inplisit sebelumnya sudah ditempatkan oleh kepala staf angkatan darat.mayjen A.H.NASUTION tahun 1958 yaitu dengan konsep jalan tengah prinsipnya menegaskan bahwaperan tentara tidak terbatas pada tugas profesional militer belaka melainkan juga mempunyai tugas-tugas di bidang sosial politik dengan konsep seperti inilah dimungkinkan dan bahkan menjadi semacam kewajiban jikalau militer berpatisipasi dan bidang politik penerapan konjungsi ini menurut pennafsiran militer dan penguasa orde baru memperoleh landasan yuridi konstitusional di dalam pasal 2 ayat 1 UUD 1945 yang menegaskan majelis permusyawaratan rakyat.
konsep diafungsi ABRI pada masa itu secara inplisit sebelumnya sudah ditempatkan oleh kepala staf angkatan darat.mayjen A.H.NASUTION tahun 1958 yaitu dengan konsep jalan tengah prinsipnya menegaskan bahwaperan tentara tidak terbatas pada tugas profesional militer belaka melainkan juga mempunyai tugas-tugas di bidang sosial politik dengan konsep seperti inilah dimungkinkan dan bahkan menjadi semacam kewajiban jikalau militer berpatisipasi dan bidang politik penerapan konjungsi ini menurut pennafsiran militer dan penguasa orde baru memperoleh landasan yuridi konstitusional di dalam pasal 2 ayat 1 UUD 1945 yang menegaskan majelis permusyawaratan rakyat.
2. PEMERINTAHAN ORDE BARU
Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden
Soeharto di Indonesia. Orde Baru menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era
pemerintahan Soekarno. Orde Baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998. Dalam
jangka waktu tersebut, ekonomi Indonesia berkembang pesat meski hal ini
dibarengi praktek korupsi yang merajalela di negara ini. Selain itu,
kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin melebar.
Orde Baru, Pada 1968, MPR secara resmi melantik Soeharto untuk
masa jabatan 5 tahun sebagai presiden, dan dia kemudian dilantik kembali secara
berturut-turut pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998.
Kebijakan Ekonomi pada Masa Orde Baru
Pada masa Orde Baru, Indonesia melaksanakan pembangunan dalam
berbagai aspek kehidupan. Tujuannya adalah terciptanya masyarakat adil dan
makmur yang merata materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila. Pelaksanaan
pembangunan bertumpu pada TrilogiPembangunan, yang isinya meliputi hal-hal
berikut.
1. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju terciptanya
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
2. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.
3. Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.
Pembangunan nasional pada hakikatnya adalah pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya. Berdasarkan
Pola Dasar Pembangunan Nasional disusun Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang
yang meliputi kurun waktu 25-30 tahun. Pembangunan Jangka Panjang (PJP) 25
tahun pertama dimulai tahun 1969 – 1994. Sasaran utama PJP I adalah
terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat dan tercapainya struktur ekonomi yang
seimbang antara industri dan pertanian. Selain jangka panjang juga berjangka
pendek. Setiap tahap berjangka waktu lima tahun. Tujuan pembangunan dalam
setiap pelita adalah pertanian, yaitu meningkatnya penghasilan produsen
pertanian sehingga mereka akan terangsang untuk membeli barang kebutuhan
sehari-hari yang dihasilkan oleh sektor industri. Sampai tahun 1999, pelita di
Indonesia sudah dilaksanakan sebanyak 6 kali.
Dalam membiayai pelaksanaan pembangunan, tentu dibutuhkan dana
yang besar. Di samping mengandalkan devisa dari ekspor nonmigas, pemerintah
juga mencari bantuan kredit luar negeri. Dalam hal ini, badan keuangan
internasional IMF berperan penting. Dengan adanya pembangunan tersebut,
perekonomian Indonesia mencapai kemajuan. Meskipun demikian, laju pertumbuhan
ekonomi yang cukup besar hanya dinikmati para pengusaha besar yang dekat dengan
penguasa. Pertumbuhan ekonomi tidak dibarengi dengan pemerataan dan landasan
ekonomi yang mantap sehingga ketika terjadi krisis ekonomi dunia sekitar tahun
1997, Indonesia tidak mampu bertahan sebab ekonomi Indonesia dibangun dalam
fondasi yang rapuh. Bangsa Indonesia mengalami krisis ekonomi dan krisis
moneter yang cukup berat. Bantuan IMF ternyata tidak mampu membangkitkan
perekonomian nasional. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab
runtuhnya pemerintahan Orde Baru tahun 1998.
Orde Baru
Kelebihan : Investor asing mulai mau menanamkan modal
di indonesia Indonesia lebih berkembang dalam hubungan Bilateral dan
Multilateral.
Kekurangan : Pembangunan ekonomi sangat tergantung
kepada utang luar negeri sabagai sokoguru. Bertambahnya kesenjangan sosial,
karena pebedaan pendapatannya yang tidak merata antara kaya dan miskin. Sistem
Ekonomi pada masa ini lebih ke kapitalistik, dimana Indonesia mulai terbuka
dengan dunia Internasional.
Dari masa ini munculah budaya KKN yang hingga kini
makin meluas, dan juga masa krisis multidimensi yang di mulai dari devaluasi
nilai bath Thailand dan peso philiphina yang merambat hingga negara asia
termsuk Indonesia Penyelesaian utang Luar negeri Gerakan reformasi 1998
Runtuhnya Orde Baru
dan Lahirnya Reformasi
Runtuhnya Orde Baru
Penyebab utama runtuhnya kekuasaan Orde Baru adalah adanya
krisis moneter tahun 1997. Sejak tahun 1997 kondisi ekonomi Indonesia terus
memburuk seiring dengan krisis keuangan yang melanda Asia. Keadaan terus
memburuk. KKN semakin merajalela, sementara kemiskinan rakyat terus meningkat.
Terjadinya ketimpangan sosial yang sangat mencolok menyebabkan munculnya
kerusuhan sosial. Muncul demonstrasi yang digerakkan oleh mahasiswa. Tuntutan
utama kaum demonstran adalah perbaikan ekonomi dan reformasi total. Demonstrasi
besar-besaran dilakukan di Jakarta pada tanggal 12 Mei 1998. Pada saat itu
terjadi peristiwa Trisakti, yaitu me-ninggalnya empat mahasiswa Universitas
Trisakti akibat bentrok dengan aparat keamanan. Empat mahasiswa tersebut adalah
Elang Mulya Lesmana, Hery Hariyanto, Hendriawan, dan Hafidhin Royan. Keempat
mahasiswa yang gugur tersebut kemudian diberi gelar sebagai “Pahlawan
Reformasi”. Menanggapi aksi reformasi tersebut, Presiden Soeharto berjanji akan
mereshuffle Kabinet Pembangunan VII menjadi Kabinet Reformasi. Selain itu juga
akan membentuk Komite Reformasi yang bertugas menyelesaikan UU Pemilu, UU
Kepartaian, UU Susduk MPR, DPR, dan DPRD, UU Antimonopoli, dan UU Antikorupsi.
Dalam perkembangannya, Komite Reformasi belum bisa terbentuk karena 14 menteri
menolak untuk diikutsertakan dalam Kabinet Reformasi. Adanya penolakan tersebut
menyebabkan Presiden Soeharto mundur dari jabatannya.
Akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto mengundurkan
diri dari jabatannya sebagai presiden RI dan menyerahkan jabatannya kepada
wakil presiden B.J. Habibie. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Orde
Baru dan dimulainya Orde Reformasi.
Kelebihan dan Kekurangan sistem Pemerintahan Orde Baru
* Perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968
hanya AS$70 dan pada 1996 telah mencapai lebih dari
AS$1.000
* Sukses transmigrasi
* Sukses KB
* Sukses memerangi buta huruf Kekurangan Sistem Pemerintahan
Orde Baru
* Semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme
* Pembangunan Indonesia yang tidak merata
* Bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang
tidak merata bagi si kaya dan si miskin)
* Kritik dibungkam dan oposisi diharamkan
* Kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan
majalah yang ditahan
3. PEMERINTAHAN
REFORMASI
Pada
tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai
presiden RI dan menyerahkan jabatannya kepada wakil presiden B.J. Habibie.
Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Orde Baru dan dimulainya Orde
Reformasi.
Sidang
Istimewa MPR yang mengukuhkan Habibie sebagai Presiden, ditentang oleh
gelombang demonstrasi dari puluhan ribu mahasiswa dan rakyat di Jakarta dan di
kota-kota lain. Gelombang demonstrasi ini memuncak dalam peristiwa Tragedi
Semanggi, yang menewaskan 18 orang.
Masa
pemerintahan Habibie ditandai dengan dimulainya kerjasama dengan Dana Moneter
Internasional untuk membantu dalam proses pemulihan ekonomi. Selain itu,
Habibie juga melonggarkan pengawasan terhadap media massa dan kebebasan
berekspresi.
Presiden
BJ Habibie mengambil prakarsa untuk melakukan koreksi. Sejumlah tahanan politik
dilepaskan. Sri Bintang Pamungkas dan Muchtar Pakpahan dibebaskan, tiga hari
setelah Habibie menjabat. Tahanan politik dibebaskan secara bergelombang.
Tetapi, Budiman Sudjatmiko dan beberapa petinggi Partai Rakyat Demokratik baru
dibebaskan pada era Presiden Abdurrahman Wahid. Setelah Habibie membebaskan
tahanan politik, tahanan politik baru muncul. Sejumlah aktivis mahasiswa
diadili atas tuduhan menghina pemerintah atau menghina kepala negara. Desakan
meminta pertanggungjawaban militer yang terjerat pelanggaran HAM tak bisa
dilangsungkan karena kuatnya proteksi politik. Bahkan, sejumlah perwira militer
yang oleh Mahkamah Militer Jakarta telah dihukum dan dipecat karena terlibat
penculikan, kini telah kembali duduk dalam jabatan struktural.
Ketika
Habibie mengganti Soeharto sebagai presiden tanggal 21 Mei 1998, ada lima isu
terbesar yang harus dihadapinya, yaitu:
a.
masa depan Reformasi
b.
Masa depan ABRI.
c.
Masa depan daerah-daerah yang ingin memisahkan diri dari Indonesia.
d.
Masa depan Soeharto, keluarganya, kekayaannya dan kroni-kroninya.
e.
Masa depan perekonomian dan kesejahteraan rakyat.
Berikut
ini beberapa kebijakan yang berhasil dikeluarkan B.J. Habibie dalam rangka
menanggapi tuntutan reformasi dari masyarakat.
mendapat
kemerdekaan penuh dengan nama Republik Demokratik Timor Leste dengan
presidennya yang pertama Xanana Gusmao dari Partai Fretilin.
Ciri-ciri
utama pemerintahan demokrasi pada masa reformasi, yaitu :
a. adanya partai politik yang independen, tidak dipengaruhi kekuasaan birokrat militer dan mempunyai dukungan luas dari masyarakat.
b. adanya konsensus atau persetujuan umum mengenai aturan main politik menyangkut pengambilan keputusan dan nilai-nilai ekonomi, sosial dan budaya.
c. adanya pemberdayaan masyarakat sipil melalui penyampaian informasi secara transparan sehingga bisa mengambil sikap terhadap permasalahan politik negara.
d. adanya penguatan lembaga-lembaga perwakilan rakyat sehingga dapat melaksanakan fungsi kontrol dengan baik.
a. adanya partai politik yang independen, tidak dipengaruhi kekuasaan birokrat militer dan mempunyai dukungan luas dari masyarakat.
b. adanya konsensus atau persetujuan umum mengenai aturan main politik menyangkut pengambilan keputusan dan nilai-nilai ekonomi, sosial dan budaya.
c. adanya pemberdayaan masyarakat sipil melalui penyampaian informasi secara transparan sehingga bisa mengambil sikap terhadap permasalahan politik negara.
d. adanya penguatan lembaga-lembaga perwakilan rakyat sehingga dapat melaksanakan fungsi kontrol dengan baik.
Krisis Ekonomi yang dialami pada saat reformasi.
Krisis Ekonomi yang melanda Indonesia pada 1997 merupakan sebuah efek
domino dari krisis ekonomi Asia yang melanda berbagai negara, seperti Thailand,
Filipina, dan Malaysia. Disebabkan oleh adanya fundamen ekonomi yang lemah,
Indonesia mengalami kesulitan dalam menata ulang kembali perekonomiannya untuk
keluar dari krisis.
Perkembangan ekonomi Indonesia telah mengalami stagnansi sejak tahun
1990-an. Saat itu, sistem neoliberalisme menjadi norma pengaturan ekonomi dan
politik dunia. Barang-barang produksi Indonesia menjadi tidak berdaya saing
apabila dibandingkan dengan barang luar negri yang secara bebas memasuki
pasaran Indonesia. Berdasarkan batasan-batasan yang telah dicanangkan oleh bank
dunia, pembangunan ekonomi tergolong berhasil jika memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan oleh bank dunia. Syarat-syarat tersebut diantaranya adalah adanya
peningkatan investasi dibidang pendidikan, yang ditandai dengan peningkatan
sumber daya manusia, rendahnya tingkat korupsi yang ada di tataran
pemerintahan, dan adanya stabilitas dan kredibilitas politik.
Syarat-syarat yang dikemukakan oleh bank dunia itu semacam acuan bagian
negara-negara berkembang dalam melakukan pembangunan ekonomi, khususnya negara
penerima bantuan luar negri seperti Indonesia. Akan tetapi, pada krisis 1997,
kondisi ekonomi Indonesia tidak merepresentasikan satupun kriteria-kriteria
yang telah ditetapkan oleh bank dunia tersebut. Hal yang terjadi di Indonesia
justru adanya krisis moneter yang ditandai dengan rendahnya mutu sumber daya
manusia, tingginya tingkat produksi di instansi-instansi pemerintah, dan
kondisi instabilitas politik. Perekonomian Indonesia mengalami penurunan hingga
mencapai 0% tahun 1998.
Kemerosotan ekonomi Indonesia ternyata tidak ditanggapi oleh presiden
Soeharto dengan membuat perbaikan dalam hal kebijakan ekonomi, tetapi justru
dengan meminta bantuan dana Monitari Fund (IMF). Pada 15 januari 1988, presiden
Soeharto menandatangani 50 butir letter of intent dengan dilaksanakannya oleh direktur IMF Asia, Michael Camdessus, sebagai
sebuah syarat untuk mendapatkan kucuran dana bantuan luar negri tersebut.
Dengan merujuk pada batasan tingkat keberasilan ekonomi suatu bangsa yang
dikeluarkan oleh bank dunia, maka dapat disimpulkan bahwa perekonomian
Indonesia tahun 1997/1998 telah mengalami kehancuran. Dalam hal investasi dan
peningkatan modal, Indonesia mengalami kemunduran yang tajam. Pada investor
luar negri beramai-ramai memindahkan modalnya kenegara lain karena tidak adanya
stabilitas dan kredibilitas politik dalam negri. Angka ekspor-impor Indonesia
menurun drastis karena sektor usaha tidak dipercaya oleh perbankan Indonesia.
Tingginya tingkat korupsi ditataran sektor ekonomi dan pemerintahan dan
munculnya kasus kredit macet yang melanda bank-bank utama di Indonesia
mengakibatkan pembayaran letter of credit (L/C) dari sektor-sektor usaha
Indonesia tidak diterima diluar negri. Penanggahan krisis ekonomi Indonesia di
tahun 1997/1998 berujung pada munculnya krisis multidimensi, baik itu politik
dan sosial, maupun krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan.
Orde
Reformasi
Kelebihan : Persaingan usaha yang terbuka(bebas)
Kerjasama dengan luar negeri makin terbuka.
Kelemahan : Maraknya kenaikan harga pokok, karena
faktor kesepakatan Multilateral dan kondisi pasar dunia. Adanya kesejangan
kelas sosial di masyarakat. Adanya pemupukan modal dan akumulasi di masyarakat.
Sistem Ekonomi yang dipakai adalah kerakyatan pancasila tapi lebih condong ke
arah Kapitalistik,dengan ideologi liberalisme.
Permasalahan yang timbul pada sistem ekonomi di era
reformasi adalah perdagangan bebas negara Asean dan China (ACFTA) Dari sini
timbul persaingan yang tidak sama kuat antara pengusaha indonesia dengan
pengusaha dari Luar yang notabene merupakan para industri besar.
DAFTAR PUSTAKA
http://mahasiswa-adm.blogspot.com/2012/11/sistem-ekonomi-kapitalismeliberalisme.html
http://memey7894.blogspot.com/2014/02/perekonomian-indonesia-pada-masa.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar