Selasa, 23 Desember 2014

Pembudidayaan Ikan Lele dengan Sistem Organik.

Pembudidayaan Ikan Lele dengan Sistem Organik.
                   BAB I
                         Pendahuluan
1.1  Latar Belakang Masalah
Protein sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup terutama manusia.Salah satu sumber protein yang mudah kita dapat adalah ikan.Sebagai bahan pangan ikan merupakan sumber potein,vitamin,lemak,dan mineral yang sangat baik dan prospektif.Keunggulan utama protein pada ikan dibandingkan produk lain yang ada adalah kelengkapan komposisi asam amino dan kemudahan dicerna bagi tubuh manusia.
Ikan dapat digolongkan menjadi tiga bagian,yaitu ikan air laut,ikan air tawardan ikan air tambak.Kandungan gizi ikan air tawar cukup tinggi sama dengan kandungan gizi ikan air laut.Lingkungan hidup ikan air tawar adalah sungai,danau,dan kolam.Jenis ikan air tawar yang sering dikonsumsi oleh banyak masyarakat umum adalah ikan lele,ikan mas,ikan mujair,ikan nila,belut,ikan gabus,dan ikan gurame.
Perkembangan zaman yang semakin pesat membuat maraknya peredaraan makanan berbahaya di berbagai daerah.Pada saat ini masyarakat umum sulit mendapatkan makanan yang bersih dan higenis karena ulah dari beberapa produsen yang mencampurkan makanan dengan zat yang mengandung bahan-bahan berbahaya.Salah satunya adalah ikan lele yang saat ini banyak mengkonsumsi kotoran dan sampah.Padahal tidak semua produsen memberikan pakan berupa kotoran hewan dan sampah namun ada beberapa produsen yang membudidayakan ikan lele dengan cara organik dapat menjadi pilihan tepat untuk mengembakbiakkan ikan lele.
1.2  Rumusan Masalah.
1.      Apa itu lele yang dibudidayakan secara organik?
2.      Bagaimana cara membudidayakan ikan lele organik?
1.3  Tujuan Masalah
Tujuan dari rumusan masalah tersebut adalah :
1.      Agar masyarakat lebih mengetahui bahwa ada peternak lele yang sudah mulai menggunakan cara organik untuk membudidayakan lele.
2.       Dengan cara ini masyarakat tahu cara proses pembuatan awal kolam lele.





BAB II
   ISI
2.1 Pengertian Ikan lele.
Ikan lele merupakan jenis ikan yang habitatnya hidup di air tawar.Lele dikenal sebagai ikan yang memiliki tubuh yang licin,sedikit pipih memanjang dan mempunyai kumis panjang yang terdapat disekitar area mulutnya.Dinegara kita ini ikan lele memiliki berbagai nama tergantung daerah hidupnya. Ikan Lele biasa di sebut dengan ikan kalang di Padang, ikan maut di Gayo Acehm ikan cepi di Bugis, ikan lele atau lindi di Jawa Tengah. Ikan lele hidup di air tawar dan tidak pernah di temukan pada air asin atau laut. Habitat dari Ikan ini berada di sungai yang aliran arusnya lambat, rawa-rawa, telaga, waduk, dan juga sawah yang tergenang air. Ikan lele bersifat noctural, yaitu dimana ikan ini aktif bergerak dalam mencari makanan di saat malam hari. Sedangkan di siang harinya ikan ini lebih tenang dengan berdiam diri dan berlindung di tempat yang tak terkena sinar matahari secara langsung. Ikan ini sebenarnya terdiri atas berbagai jenis (spesies). Sedikitnya terdapat 55 spesies (jenis) ikan lele di seluruh dunia.
leleIkan-ikan marga Clarias ini dikenali dari tubuhnya yang licin memanjang tak bersisik, dengan sirip punggung dan siripanus yang juga panjang, yang terkadang menyatu dengan sirip ekor, menjadikannya nampak seperti sidat yang pendek. Kepalanya keras menulang di bagian atas, dengan mata yang kecil dan mulut lebar yang terletak di ujung moncong, dilengkapi dengan empat pasang sungut peraba (barbels) yang amat berguna untuk bergerak di air yang gelap. Lele juga memiliki alat pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya. Terdapat sepasang patil, yakni duri tulang yang tajam, pada sirip-sirip dadanya.

Spesies Ikan Lele
Sedikitnya terdapat 55–60 spesies anggota marga Clarias diseluruh dunia. Dari jumlah itu, di Indonesia kini diketahui belasan spesies lele, beberapa di antaranya baru dikenali dan dideskripsi dalam 10 tahun terakhir. Berikut ini adalah daftar jenis (spesies) Ikan Lele menurut Ferraris (2007), yang terdapat di Indonesia.
  1. Clarias batrachus (Linnaeus, 1758). Disebut juga Lele kampung, Kalang, Ikan Maut, Ikan Pintet. Menyebar di Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk di Sumatera, Jawa dan Kalimantan.
  2. Clarias gariepinus (Burchell, 1822). Disebut sebagai Lele Dumbo (King Catfish). Menyebar luas di Afrika dan Asia Kecil, kini diternakkan di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.
  3. Clarias insolitus (Ng, 2003). Endemik di aliran Sungai Barito, Kalimantan.
  4. Clarias intermedius (Teugels, Sudarto & Pouyaud, 2001). Endemik di Kalimantan Tengah, di antara Sampit dengan Sungai Barito.
  5. Clarias kapuasensis (Sudarto, Teugels & Pouyaud, 2003). Endemik di Kalimantan Barat, di sekitar aliran Sungai Melawi dan Kapuas.
  6. Clarias leiacanthus (Bleeker, 1851). Endemik di Kalimantan Barat, di aliran Sungai Kapuas.
  7. Clarias meladerma (Bleeker, 1846). Disebut juga dengan Wiru, Wais, Ikan Duri, atau Lele Hitam. Terdapat di lembah Sungai Mekong, Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Filipina.
  8. Clarias microstomus (Ng, 2001). Endemik di Kalimantan Timur, di sekitar aliran Sungai Mahakam dan Kayan.
  9. Clarias nieuhofii (Valenciennes, 1840). Disebut juga dengan Limbat, Lembat. Terdapat di Sumatra, Kalimantan, India, Filipina, Thailand, dan pesisir Kamboja, serta kemungkinan di sisi Pegunungan Cardamom di arah Sungai Mekong.
  10. Clarias nigricans (Ng, 2003). Endemik di Kalimantan Timur, di sekitar aliran Sungai Mahakam.
  11. Clarias olivaceus (Fowler, 1904). Endemik di Sumatera Barat, di sungai-sungai dataran tinggi.
  12. Clarias planiceps (Ng, 1999). Disebut juga sebagai Lele Kepala-pipih. Endemik Kalimantan. Habitatnya meliputi hulu Sungai Rajang dan Kapuas, Kalimantan Barat, serta Sungai Kayan, Kaltim.
  13. Clarias pseudoleiacanthus (Sudarto, Teugels & Pouyaud, 2003). Endemik Kalimantan.
  14. Clarias pseudonieuhofii (Sudarto, Teugels & Pouyaud, 2004). Endemik Kalimantan Barat, pada sistem Sungai Kapuas bagian hulu.
  15. Clarias teijsmanni (Bleeker, 1857). Dinamakan juga sebagai Lele Kembang. Menyebar di sekitar aliran Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, dan Jawa.
2.2  Budidaya Lele Organik.
                 Ikan lele organik mempunyai beberapa kelebihan dari lele non organik. Terutama dari segi penghematan biaya pakan, rasa dan manfaatnya untuk kesehatan. Budidaya ikan lele sudah ada dimana-mana karena memang banyak sekali peminatnya, namun tidak sedikit yang gulung tikar sebab harga pakan lele terus melambung. Harga pakan lele yang mahal tak sebanding dengan hasil panen dan jerih payahnya. Akan tetapi bagi peternak lele organik, mahalnya harga pakan tidak jadi soal. Sebab memang mereka tidak menggunakan pakan pelet oleh karena itu banyak sekali yang bertanya tentang cara budidaya lele organik dengan pupuk ion organik cair untuk budidaya lele organik. Budidaya lele dengan pupuk ion organik cair banyak sekali manfaatnya. Diantaranya adalah :
1.      Hemat biaya perawatan.
2.      Air kolam tidak berbau busuk.
3.      Tidak perlu mengganti air kolam.
4.      Lele organik mempunyai rasa yang lebih gurih.
5.      Bobot ikan lele lebih berat dan harga jualnya lebih tinggi.
6.      Lebih aman untuk kesehatan.
7.      Nilai gizinya lebih tinggi dan kolesterolnya lebih rendah.
8.      Air bekas budidaya lele organik sangat baik untuk memupuk tanaman.

2.2.1 Tahap awal
            Cara budidaya lele organik ada beberapa tahap. Pada tahap awal budidaya lele organik, dengan membuat kolam ukuran 2×3 meter dengan ketinggian 120 cm. Agar sedikit menghemat biaya untuk dasar kolam bisa menggunakan terpal seperti biasa, kedalaman air kolam idealnya 80 cm. Penggunaan air bisa menggunakan air sumur, air pam, air sungai asal air tersebut tidak tercemar limbah berbahaya, di usahakan kolam lele budidaya ini diberi penutup dari bahan ram atau jaring supaya lele tidak loncat. Sebelum menebar benih lele, kembangkan dulu plankton sebagai makanan tahap awal benih yang ditebar, cara pembuatan plankton ini bisa menggunakan pupuk urea atau pupuk kandang seperti kotoran sapi, kotoran kelinci dan lain-lain.

Membudidayakan lele organik memang membutuhkan keuletan tersendiri. Sebab,setidaknya terdapat empat tahapan yang harus dilakukan.dalam persiapan kolam pemeliharaan yaitu:
1.      Tahap pertama :
Pemberian kotoran sapi yang telah dikomposing selama satu bulan. Kotoran sapi tersebut ditempatkan dalam karung tertutup dan diposisiskan didasar kolam
2.      Tahap kedua:
Pembentukan kultur alami dari pakan alami lele, dengan cara melarutkan pupuk cair organik yang mengandung bakteri penghasil enzim Xylanase.
3.      Tahap ketiga:
Pembiakan pakan alami dengan cara pemberian EM4
4.      Tahap keempat:
Pembuatan filter air untuk menyaring air dengan bahan-bahan alami berupa dedaunan dan arang tempurung kelapa.

Biasanya setelah 7 hari plankton akan tumbuh banyak di kolam pembenihan. Pada tahap awal penebaran benih lele bisa mulai menebarkan benih sebanyak 300-400 ekor terlebih dahulu, tapi bila merasa yakin pada tahap awal atau memang sudah biasa budidaya lele, bisa memadatkan penebaran benihnya. pada tahap penebaran benih diusahakan jangan langsung menebar benih begitu saja, tapi masukan air wadah benih secara perlahan kedalam  kolam dan biarkan air bercampur. biarkan benih lele keluar dari wadah dengan sendirinya, ini dimaksudkan agar benih ikan lele yang tebar tadi bisa menyesuaikan perlahan dengan air kolam. Setelah penebaran benih selesai, jangan langsung langsung memberi pakan, tetapi biarkan benih-benih tadi memakan pakan alaminya yang sudah tersedia dari plankton yang sudah dibuat. Setelah satu minggu baru bisa diberikan pakan tambahan.


2.1.2 Manajemen Pakan dalam ikan lele
Kotoran sapi rupanya tak hanya bermanfaat untuk pupuk organik, kotoran sapi saat ini juga populer untuk budidaya lele organik. Dalam budidaya lele organik kebutuhan pakan berupa pellet dapat ditekan, sehingga biaya perawatan pembesaran lele dapat lebih murah, sehingga petani bisa mendapatkan keuntungan yang lebih baik dari pada budidaya dengan system konvensional. Lele yang dipelihara dengan system organik ternyata lebih gurih. Konsep budidaya lele organik mengadopsi pola hidup lele di alam bebas, dimana media hidup (kolam pemeliharaan) dan pakannya berasal dari bahan organik.
Pakan anakan lele berupa pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur di bawah 3 – 4 hari. Pakan buatan untuk umur diatas 3- 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya.
Berbeda dengan budidaya lele non organik, untuk membudidayakan lele organik sejak masih benih hingga siap konsumsi. Biasanya dilakukan dengan perlakuan khusus, dari mulai persiapan kolam, pemberian  pakan, semua berasal dari bahan-bahan alami yang diolah dengan system fermentasi, pemakaian obat-obatan kimia hanya diberikan sebatas keperluan yang memang tidak bisa dihindari. Hasilnya tentu saja berbeda. Ukuran lele organik ternyata lebih panjang, antara 25-30 centimeter dibandingkan lele biasa. Warna lele organik kemerah-merahan, terutama di bagian sirip dan insang. Sedangkan lele biasa (non Organik) warnanya sedikit lebih hitam, Lele organik juga lebih menonjol dalam hal rasa. Tekstur daging lebih kesat, kenyal, dan gurih, hampir menyamai rasa lele yang hidup di alam bebas dan tentunya, lebih sehat..
Kolam lele organik  berisi air dicampur langsung dengan pupuk organik, kotoran sapi dan bakteri-bakteri penghancur sampah organik. Dari cara ini, kotoran sapi akan menghasilkan banyak plankton yang menjadi makanan utama lele. Sedangkan pupuk cair yang mengandung bakteri akan menghasilkan enzim-enzim terutama enzim Xylanase yang berfungsi untuk menguraikan sisa makanan (sampah organik) yang ada didasar kolam menjadi makanan untuk jasad renik, udang renik, kutu air dan lain-lain yang merupakan makanan alami ikan lele, sehingga pencemaran akibat sampah pakan yang ada dalam kolam dapat dihindari. Keuntungan lainnya, air di dalam kolam lele tidak menghasilkan bau busuk seperti halnya lele non organik, Sehingga  tak perlu repot mengganti air dalam kolam, menghemat biaya dan tenaga, bahkan air dari kolam organic ternyata bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman padi dan palawija.
Hal-hal yang juga berpengaruh pada efektifitas pakan adalah :

1.      Kondisi air kolam,air kolam yang keruh menyebabkan ikan tidak dapat mendeteksi pakan secara cepat,akibatnya pakan yang kita berikan pada ikan lebih banyak terlarut dalam air dan kemudian mencemari air kolam,atau dengan kata lain pakan yang kita berikan lebih banyak terbuang percuma daripada yang termakan oleh ikannya.
2.      Palatibilitas pakan(keuletan dan kekerasan pakan dalam air),pakan yang baik tidak mudah hancur waktu ditebarkan kedalam kolam tapi mudah dicerna oleh ikan.Semakin bagus palatabilitasnya semakin irit pakan yang kita butuhkan selama pemeliharaan.
3.      Keseragaman ukuran ikan peliharaan,kolam dengan ikan yang bermacam-macam dapat menyebabkan terjadinya Kanibalisme dan kekerdilan.hal ini akan berakibat pada hasil panen yang tidak merata bahkan bisa juga berakibat pada kegagalan panen karena ikan yang berukuran kecil lebih banyak mati karena dimakan atau diserang oleh ikan-ikan yang berukuran besar,hasil panen tidak mencapai hasil yang diharapkan karena jumlah ikan yang bisa kita panen jauh berkurang karena kebanyakan menjadi makanan ikan besar(Kanibalisme)dan ukuran ikan yang tidak banyak berkembang(kerdil)karena tidak mampu bersaing dalam perebutan pakan.
4.      Sistem pemeliharaan. Pemeliharaan dengan cara konvensional seperti yang biasa dilakukan oleh kebanyakan petani merupakan hal yang sudah biasa dan memang sudah berjalan dengan lancar meskipun pada saat ini baru terasa akibat negative yang tersisa dari cara konvensional ini seperti;pencemaran air tanah,polusi udara dan mahalnya harga pellet buatan pabrik.sistem pemeliharaan yang terbaik dan ramah lingkungan adalah dengan system organik,karena dalam system ini diterapkan pola pengolahan yang serba alami,semua bahan yang kita terapkan ke kolam memakai bahan dari lingkungan sekitar kita,sepeti yang kita bahas sebelumnya.
5.       Manajemen pakan. Pemberian pakan yang tepat waktu dan jumlahnya akan dapat menambah nilai keuntungan dari hasil panen yang kita harapkan,poin terakhir yang kita bahas ini terkadang dilupakan oleh kebanyakan petani lele,sehingga antara biaya pemeliharaan dan hasil panen lebih banyak biaya pemeliharaannya terutama biaya untuk pakan,yang mencapai nilai 60% dari peruntukan biaya keseluruhan.
Tujuan dari pemeliharaan lele dengan sistem organik dimaksudkan untuk mengubah kebiasaan lama, dimana disetiap kolam lele pasti akan tercium bau menyengat yang sangat mengganggu lingkungan, juga untuk menekan limbah dan pencemaran lingkungan air permukaan (sumur) akibat dari pemberian pakan yang berupa limbah industri peternakan ayam, atau akibat kelebihan pakan berupa pellet yang biasanya tidak termakan habis oleh lele dan menjadi penyebab utama dari bau busuk yang mencemari air sumur, parit, sungai dan udara disekitar kolam pemeliharaan lele dengan system konvensional.

2.1.3 Manajemen Air yang akan digunakan pada pembudidayaan ikan lele
Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik :
1.       air harus bersih
2.      berwarna hijau cerah
3.       kecerahan/transparansi sedang (30 – 40 cm).
Ukuran kualitas air secara kimia :
1.      bebas senyawa beracun seperti amoniak
2.      mempunyai suhu optimal (22 – 26oC).

2.1.4 Manajemen Kesehatan pada pembudidayaan ikan lele.
        Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek. Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain. Maka dalam menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi. Dalam kedua hal itulah, peranan  pupuk ion organik cair sangat besar. Namun apabila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang sesuai. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan juga harus sesuai dengan kadar ikan lele.








BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
                 Lele atau ikan keli adalah sejenis ikan yang hidup di air tawar. Lele mudah dikenali karena tubuhnya yang licin, agak pipih memanjang, serta memiliki “kumis” yang panjang, yang mencuat dari sekitar mulutnya. Secara ilmiah lele terdiri dari banyak sepesies. Sehingga tidak mengherankan pula apabila lele di nusantara mempunyai banyak nama daerah. Ikan lele bersifat natural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung ditempat-tempat gelap. Hal ini dikarenakan kulitnya yang licin dan tidak bersisik tidak bisa terkena panas matahari yang berlebihan.
Manfaat lele selain untuk konsumsi yaitu sebagai ikan hias, memberantas hama padi berupa serangga air dan juga sebagai obat untuk mengobati penyakit asma, menstruasi tidak teratur, kencing darah dan lain-lain. Masyarakat juga tidak perlu takut lagi untuk mengkonsumsi ikan lele, karena sudah banyak peternak lele yang menggunakan budidaya lele organik ini. Selain itu, lele juga kaya akan protein, lemak, vitamin dan mineral yang sangat baik dan prospektif yang sangat baik untuk pertumbuhan anak-anak balita.
Lele organik adalah budidaya ikan lele dengan sistem organik yang artinya pakan alami berasal dari bahan organik, seperti kotoran sapi yang dapat menumbuhkan plankton sebagai pakan alami. Usaha budidaya lele organik ini menjadi pilihan utama karena relatif mudah, mulai dari proses pembenihan bibit, pemijahan, pemindahan hingga pendederan sampai siap jual.

3.2  SARAN
                 Adapun saran yang dapat disampaikan adalah untuk semua masyarakat tidak perlu takut lagi untuk mengkomsumsi ikan lele, karena ikan lele sangat banyak manfaatnya mulai dari kaya akan protein, lemak, vitamin bahkan juga sebagai obat untuk mengobati penyakit asma, menstruasi tidak teratur, kencing darah dan lain-lain. Serta dengan informasi ini juga dapat mencoba untuk membudidayakan lele organik sebagai sumber pencarian baru.




Daftar Pustaka.
Zonneveld et al.1991.Prinsip-Prinsip Budidaya Ikan.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama

Nugroho,2011.Panduan Lengkap Ikan Konsumsi Air Tawar Populer.Jakarta:Penebar Swadaya
Hasanuddin,1984.Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan I.Binacipta


Pengembangan Usaha Pembuatan Kripik Singkong

BAB I     
Pendahuluan
1.1  Latar Belakang Masalah
Kripik singkong merupakan salah satu produk makanan ringan yang banyak di sukai oleh para konsumen dikarenakan kripik singkong memiliki harga yang  murah dan pas untuk santai dengan keluarga.Permintaan kripik singkong meningkat karena kripik singkong memilki berbagai varian rasa.Pada saat ini usaha pengembangan usaha kripik singkong semakin trend dikalangan masyarakat kebanyakan produsen beralih profesinya menjadi produsen kripik singkong.
Sejati produk kripik singkong pedas bagi masyarakat indonesia namun menambahkan sedikit inovasi membuka peluang bisnis yang mendapatkan untung besar bagi pelakunya.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaiman asal usul singkong?
2.      Cara memilih singkong yang baik dimakan?
3.      Apa manfaat dari singkong?
4.      Bagaimana cara mengolah singkong menjadi kripik?
1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui cara mengolah singkong menjadi kripik.
2.      Untuk mengetahui manfaat yang terdapat didalam singkong.
3.      Untuk mengetahui cara memilih singkong yang baik untuk dimakan.











BAB II
   ISI
2.1 Asal Usul Singkong
Pada saat ini singkong banyak dikembangkan diseluruh nusantara dikarenakan teknik budaya budidaya singkong paling mudah dan singkong merupakan salah satu umbi yang mudah untuk diaplikasikan ke berbagai olahan makanan.
Selain umbinya yang sangat bermanfaat ternyata mempunyai khasiat pada kulit singkong yang sangat berguna untuk kesehatan bahkan memiliki rasa sangat lezat.Teknik budidaya singkong mengalami kemajuan dengan ditemukannay bibit singkong unggul yang memilki ukuran 50 Kg perpohon dapat menghasilkan singkong 10 kali lipat dari hasil biasanya.
2.2 Kriteria singkong yang baik untuk bahan makanan.
Singkong lebih dikenal sebagai ketela pohon atau ubi kayu.Secara keseluruhan tumbuhan ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.Umbi singkong jika disimpan dalam waktu  2 hari dapat mengandung racun yang ditandai oleh perubahan warna daging buahnya menjadi biru gelap,racun yang terdapat pada singkong adalah asam sianida.
Ada beberapa jenis singkong yang dikembangkan di Indonesia.Jenis singkong digolongkan berdasarkan kadar asam sianida yang dikandungnya.Ada jenis singkong yang manis dan ada singkong yang pahit.Singkong manis dapat digunakan langsung karena mempunyai kadar asam sianida relatif rendah.Untuk kelompok singkong manis diantaranya gading,adira I,mangi,betawi,mentega,dan kaliki.
Hal terpenting untuk diperhatikan dalam menghidangkan aneka macam makanan dari bahan singkong yang aman dari racun ini adalah memilih umbi singkong dari jenis singkong manis.
2.3 Manfaat singkong menjadi kripik
Singkong memiliki banyakmanfaat dan khasiat bagi kesehatan manfaat singkong sebagai umbi yang memiliki khasiat antioksidan,antikanker,antitumor,dan dapat meningkatkan nafsu makan serta dapat menyembuhkan beragam penyakit.
2.4 Variasi olahan singkong menjadi kripik singkong
Pembuatan kripik singkong sangat sederhana dan tidak dibutuhkan keahlian khusus,tetapi memerlukan dalam memilih singkong yang berkualitas baik dan teknik pembuatannya.
Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan kripik singkong adalah singkong,garam,bawang putih,air kapur sirih,air,dan minyak goreng.
Tahap-tahap pembuatan kripik singkong adalah sebagai berikut:
1.      Langkah awal pembuatan kripik singkong diawali dari memanen singkong yang sudah berumur 3 bulan.
2.      Singkong yang telah dipanen lalu kita bersihkan dari kulit arinya.Lalu cuci singkong hingga bersih,setelah dicuci iriskan singkongnya secara horizontal.
3.      Bawang putih dan garam dihaluskan,Kemudian dimasukkan kedalam air dan ditamabahkan sedikit air kapur sirih.
4.      Kemudian irisan singkong dimasukkan kedalam air yang sudah dibumbui,lalu direndam dalam waktu setengah jam.Setelah irisan singkong direndam keringkanlah tanpa terkena sinar matahari secara langsung.
5.      Setelah singkong selesai dibersihkan dan di iris,kemudian masuk ketahap penggorengan.Setelah kripik digoreng hingga kecoklatan lakukan pengemasaan.




















BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Singkong yang baik untuk digunakan sebagai bahan makanan adalah singkong manis,karena memiliki kadar asam sianida yang relatif rendah sehingga tidak beracun jika dikonsumsi.Selain itu kita harus memperhatikan dalam cara pengolahannya serta memilih singkong yang masih dijadikan bahan makanan.
Singkong dapat diolah menjadi berbagai macam makanan,salah satunya adalah kripik singkong.Dalam proses pembuatan kripik,ada beberapa tahap yang harus kita lakukan yaitu pemilihan singkong,pencucian,pemotongan,dan penggoreng.
Dalam membuat suatu usaha tujuan kita adalah memperoleh keuntungan.Dengan mengolah singkong menjadi kripik akan memperoleh keuntungan yang lebih besar dan modal yang kita keluarkan akan kita dapatkan.
3.2 Saran.
Kita harus memahami peluang-peluang yang ada lingkungan sekitar kita.Dalam negara agraris kita dapat mengolah produk makanan dari hasil alam negara kita sendiri suapaya kita mendapatkan keuntungan yang lebih besar dan dapat meningkatkan penghasilan kita.













Daftar Pustaka
Adijaya,Yanto.2012.Cara membuat kripik singkong
Husniati.2010.Memilih Singkong Aman Dimakan

  


Usaha Martabak Mini

Usaha Martabak Mini
BAB I
       Pendahuluan
1.1  Latar Belakang Masalah
Dalam suatu pemasaraan banayak sekali berbagai bentuk dan macam-macam aneka ragam makanan dari ukurannya besar hingga ukuran kecil dan dari harganya mahal sampai harganya murah.Martabak merupakan makanan yang sagat sederhana dikonsumsi pada malam hari.
Akhir-akhir ini banyak peluang bisnis makanan yang menguntungkan.Salah satu bisnis makanan yang menguntungkan adalah membuka usaha martabak mini.Selain mengguntungkan martabak mini memiliki variant rasa yang lezat untuk disantap disaat santai bersama keluarga.Untuk memulai bisnis ini dibutuhkan modal Rp 7.000.000 sampai Rp 9.000.000.Setiap bulannya kita dapat untung berkisaran Rp 10.000.000 sampai Rp 11.000.000.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari martabak mini?
2.      Bagaimana perencanaan dalam membuka usaha martabak mini?
3.      Bagaimana cara memasarkan usaha martabak mini?
1.3  Tujuan
1.      Untuk mengajarkan para produsen cara membuat perencanaan dalam membuka suatu usaha.
2.      Untuk memberi pandangan kepada para konsumen dalam memasarkan suatu usaha.















BAB II
   ISI
2.1 Pengertian martabak mini  dan alasan diberi nama martabak mini
Martabak mini yaitu martabak dengan ukuran kecil dengan memiliki diameter 12cm.Ada beberapa alasan makanan ini disebut dengan martabak mini:
1.      Dengan ukuran kecil yang memiliki varian rasa  yang beraneka ragam dan harganya lebih murah dibandingkan martabak yang ukuran besar.
2.      Dengan ukuran kecil martabak ini cepat habis dimakan.
3.      Menurut para ibu martabak ini dapat menjadi bekal untuk anak kesekolah karena martabak ini lebih praktis dibawa.
2.2 Cara perencanaan dalam memulai bisnis martabak mini.
Jika kita ingin memulai bisnis martabak mini  ini kita dapat menggunakan perencanaan melalui pendekatan SWOT dikarenakan dengan cara pendekatan SWOT dapat mengukur kemampuan para pesaing yang ada di lingkungan sekitar kita membuka usaha.
Dibawah ini analisis SWOT:
1.      Strenght ( kekuataan)
Kekuatan dari produk ini ialah:
-          Menjual suatu produk untuk semua kalangan masyarakat
-          Satu produk yang terdiri dari beberapa macam bentuk dan rasa.
-          Bahan baku pembuatan martabak mini terjamin banyak manfaat bagi tubuh kita dna higenis.
2.      Weakness ( kelemahan)
Kelemahan dari produk ini ialah:
-          Martabak mini tidak tahan lama disimpan.
-          Produk ini dapat ditiru oleh produsen lainnya.
3.      Opportunity (peluang)
-          Tempat untuk membuka usaha martabak ini harus strategis dari tempat tinggal konsumen.
-          Fasilitas yang disediakan oleh produsen harus memadai dikkarenakan supaya para konsumen yng datang nyaman.
4.      Threath (ancaman)
Banyaknya pesaing yang menjual martabak mini ini dengan harga yang tidak terlalu mahal harganya.
2.3 Analisa yang harus diperhatikan dalam memasarkan suatu produk.
Kita dapat menganalisa yang harus kita perhatikan dalam memasarkan suatu usaha yang kita ingin buka dengan cara 4P:
1.      Product (produk)
Produk yang ingin kita pasarkan adalah “ martabak mini” yang dapat menjadi makanan selingan bagi para konsumen.
2.      Price (harga)
Harga perporsi martabak ini seharga Rp 12.000.Harga yang telah ditetapkan oleh produsen sangat relative murah dan terjangkau oleh para konsumen.
3.      Promotion(promosi)
Dalam melakukan promosi martabak mini dengan menyebarkan brosur kepada masyarakat dengan promosi setiap pembelian 1 paket dengan isi 5 porsi akan memberikan diskon 10% dari gharga yang telah ditetapkan.
4.      Place (tempat)
Tempat yang kita pilih untuk membuka usaha bisnis ini didaerah Mangun Jaya,Tambun karena lokasi itu sangat strategis dan mudah untuk dijangkau oleh para konsumen.









BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan.
Martabak mini merupakan ukuran martabak yang menarik dan praktis.Dan memiliki rasa yang banyak dan nikmat.Dalam membuka bisnis ini kita tidak membutuhkan modal yang sangat besar bukan hanya modal yang sangat besar kita harus memilki 3 hal yaitu sikap mental positif,kreatif,dan inovatif.





















DAFTAR PUSTAKA.
Suyanto,M.2011.Everyone can become a succesful entrepreneur.Yogyakarta:Andi